Join :
Citizen/Kirim Berita:

ATJEH CYBER WARRIOR™

atjehcyber aceh | 728x90

aceh atjehcyber | catmenu

Follow us:
Kirim Berita :

atjehcyber aceh | carousel

aceh atjeh cyber | #tag

acw atjeh cyber | Headline

acw atjeh cyber | commentWrapper

aceh atjeh cyber acheh 728x80

Dinar Aceh Akan Segera Kembali

Ia Dilahirkan pada tahun 1964 di Italia dan memeluk Islam ketika di bangku Kuliah di University of Madrid, Professor Dr. Umar Ibrahim Vadillo dikenal sebagai “Pejuang Dinar”. Sejak dua dekade yang lalu, beliau sangat gencar mempromosikan Dinar (mata uang emas) dan Dirham (mata uang perak) untuk kembali digunakan sebagai mata uang Islam. Hal ini dituangkan dalam beberapa buku yang ditulisnya, seperti “The Fatwa on Paper Money”, “The Return of the Gold Dinar” and “The Esoteric Deviation in Islam”, yang dipublikasikan oleh Madinah Press.

Gagasan untuk kembali menggunakan Dinar dan Dirham telah mendapat respons positif pemimpin dunia Islam. Mantan Perdana Menteri Turki, Dr. Necmettin Erbakan, Raja Hassan II, Moroko dan Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad memberi dukungan penuh agar umat Islam menggunakan Dinar dan Dirham.

Malah ketika Dr. Erbakan dan Raja Hassan memerintah Turki dan Moroko, mereka telah menggunakan Dinar dan Dirham sebagai mata uang resmi negara. Dr. Mahathir pun tidak mau ketinggalan. Beliau telah mengajak partner bisnisnya, Iran untuk menggunakan D&D dalam transaksi bilateralnya. Luarbiasanya, kini ada dua Negeri Bagian (red:setingkat Provinsi) di Malaysia yang telah resmi menggunakan Dinar dan Dirham, yaitu Negeri Kelantan dan Perak.

Professor Dr. Umar Ibrahim Vadillo
Gagasan untuk kembali ke Dinar dan Dirham juga turut berembus ke Indonesia. Professor Umar Vadillo pun telah beberapa kali bersilaturrahmi ke Jakarta untuk mempromosikan Dinar dan Dirham. Walaupun mendapat respons positif dari pemerintah Indonesia, namun tindakan nyata untuk menggunakan Dinar dan Dirham di Indonesia belum nampak. 


Sejauhmana pula dukungan pemerintahan Aceh untuk kembali ke Dinar dan Dirham, sebagai salah satu upaya untuk melaksanakan syariat Islam secara kaffah? Langkah kebijakan apa saja yang harus dilakukan untuk kembali menggunakan Dinar dan Dirham? Apakah pengalaman Negeri Kelantan dan Perak di Malaysia dalam menggunakan Dinar dan Dirham dapat kita jadikan referensi?

Masyarakat Aceh Inginkan Dinar Dirham Segera Kembali

Meski telah banyak yang melupakannya, masyarakat Aceh mendambakan Dinar dan Dirham segera kembali. Itulah hasil muhibah Dinar Dirham di Banda Aceh, yang dilakukan oleh Tim WIN, Sabtu dan Senin (30 April-2 April 11), berdasarkan pembicaraan dengan berbagai pihak. Kepada sejumlah warga kota Banda Aceh, khususnya para pemilik kedai, Pak Zaim Saidi dan Pak Abdarrahman Rachadi, mengenalkan kembali Dinar dan Dirham secara langsung.

Mereka sangat antusias mengenali kembali mat auang tetua mereka. "Kalau ini [Dinar dan Dirham] kembali dipakai di sini, rakyat Aceh akan kembali kaya," ujar seorang ibu tua pemilik kedai emas, sebut saja Bu Aminah, di tokonya "Toko Emas Murni", di Jl. T Iskandar, di sebelah kedai kopi Solong, Banda Aceh. Ia secara spontan mengomentari koin Dinar dan Dirham yang ditunjukkan kepadanya.

Selain kepada warga kota, silaturahmi juga berlangsung dengan Bpk K.H. Imam Sujak, pengurus Muhammadiyah Aceh Darus Salam. Muhibah ini juga dilakukan bersama dengan Haji Umar Ibrahim vadillo dan Abdaghany Aoeskhanov, yang khusus datang dari Kuala Lumpur. Pertemuan lainnya berlangsung dengan para pengurus Yayasan Baitul A'la fi Mujahidin, yang telah bersepakat dan siap untuk segera mengoperasikan wakala di Banda Aceh.

Puncaknya adalah pembicaraan dengan Bpk Hasbi Abdullah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, untuk membicarakana perkembangan penerapan Dinar dan Dirham di Nusantara, dan kelanjutannya di Nangroe Aceh Darussalam. Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu telah terjadi pertemuan antara tim Dinar dan Dirham Kesultanan Kelantan, Malaysia, dengan Wakil Gubernur NAD, Bpk Muhammad Nazar, dan sejumlah anggota DPRA.

Bpk Hasbi Abdullah, selaku Ketua DPRA, sangat mendukung penerapan kembali Dinar dan Dirham di Aceh. Malam itu juga, Pak Hasbi berbicara dengan Wakil Gubernur Muhammad Nazar, via telepon, karena Gubernur NAD tidak dapat dihubungi, untuk meminta Pemerintah NAD, dalam hal ini Gubernur Irwandi Yusuf, untuk mengeluarkan sebuah Surat Keputusan Gubernur tentang pencetakan dan penerapan kembali Dinar dan Dirham di Aceh Darussalam.

Selain itu, juga diuuslkan, agar DPRA dapat mengeluarkan sebuah Kanun, yang menyatakan bahwa zakat mal di NAD ditarik dan dibagikan kembali dalam bentuk Dinar dan Dirham, sesuai dengan ketetapan syariat Islam.

Mengapa Harus Dinar?

Belum pulih ingatan kita dari dampak negatif krisis moneter yang melanda Asia 1997, krisis global 2008 yang bersumber di negara Amerika Serikat (AS) kembali menghantui dunia. Efek domino krisis ekonomi turut menghantam ekonomi Indonesia. Krisis valuta asing (Valas) dan perang mata uang pun tidak bisa dielakkan.

Untuk menghindari terjadinya krisis silih berganti, para ekonom Muslim memperjuangkan Dinar dan Dirham untuk dijadikan mata uang. Dinar dan Dirham dapat digunakan sebagai media pertukaran, alat untuk menetapkan harga berbasis emas, menawarkan nilai tukar yang stabil, hingga mampu menciptakan kestabilan harga. Realita ini persis seperti diakui Alan Greenspan (2001), dalam bukunya “Gold and Economic Freedom” sebagai berikut: ‘’...tanpa kehadiran uang standar emas, tidak ada cara untuk memproteksi penyusutan tabungan akibat inflasi”.

Superioritas Dinar dan Dirham dibandingkan dengan mata uang kertas dan logam (fiat money) yang kita pakai sekarang, tidak saja diakui para ekonom Islam, malah turut disaluti “Ekonom Kaplat”. Dinar yang di-back up 100% oleh emas (memiliki 100% nilai intrinsik) jelas harganya lebih stabil dibandingkan dengan Euro yang hanya di-back up 20% oleh emas dan Dolar yang sama sekali tidak di-back up oleh emas. Ini terbukti ketika AS menggunakan uang standard emas pada tahun 1879, tingkat inflasi di negara super power itu menurun drastis menyamai tingkat inflasi ketika uang standard emas digunakan pada tahun 1861.

Imam Ghazali mengatakan, Allah telah menciptakan emas dan perak sebagai pengukur nilai yang sebenarnya. Dalam bukunya, “The Theft of Nation: Returning to Dinar”, Prof. Dr. AKM Meera (2004) menyebutkan bahwa: “emas dapat menawarkan sistem keuangan yang stabil dan adil, menciptakan perekonomian yang adil dan stabil, memiliki daya tahan tinggi, serta tidak menimbulkan inflasi dan pengangguran”.


Jelas bahwa akar permasalahan ekonomi dewasa ini adalah karena “fiat money”. Secara aktual, fiat money akan menimbulkan riba sehingga akan menjadi penghalang Muslim untuk merealisasikan “Maqasid Syari’ah”, yaitu untuk memproteksi agama (ad-Din), intelektualitas (al-`Aql), harta-benda (al-Mal), nyawa (an-Nafs) dan keturunan (an-Nasl) dalam sistem moneter fiat berbasis bunga.

Bukti historis juga menunjukkan bahwa pada zaman Rasulullah, harga seekor ayam adalah satu Dirham (sekitar Rp 70.000), dan saat ini setelah lebih dari 1.400 tahun, harga ayam masih berkisar satu Dirham. Begitu pula dengan harga domba yang dulu hingga saat ini masih berkisar satu Dinar (sekitar Rp 1.800.000). Selanjutnya, akibat nilai D&D tidak berubah, maka tindakan spekulatif di pasar valuta asing tidak akan terjadi.

Di samping kebal terhadap inflasi, Dinar dan Dirham juga tidak dipengaruhi oleh tingkat bunga. Dengan kata lain, Dinar dan Dirham adalah uang bebas riba. Kestabilan Dinar dan Dirham juga akan mempromosikan perdagangan dan menstabilkan sistem moneter. Jelas bahwa penggunaan Dinar dan Dirham akan menciptakan kestabilan makro ekonomi. Ekonomi yang stabil akan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi.

Dinar Aceh

Sebenarnya gagasan untuk kembali menggunakan Dinar dan Dirham di Aceh bukanlah sesuatu yang baru. Uang emas telah digunakan ketika Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326) berkuasa di Kerajaan Samudera Pasai. Rakyat Pasai menyebut uang emas itu sebagai “Dierham”, di mana semua kegiatan pencetakannya ditentukan oleh Sultan (Baca: T. Ibrahim Alfian. 1979.

Mata Uang Emas Kerajaan Aceh). “Dierham” Pasai memiliki berat yang bervariasi antara 0,40 hingga 0,58 gram, bermutu antara 17-18 karat. Di bagian depannya tertera nama Muhammad Malik Al-Zahir dan di bagian belakangnya tertera ungkapan ‘al-Sultan al-’Adl’.

Ungkapan ‘al-Sultan al-’Adl’ yang tertera di sisi mata uang Pasai diilhami Q.S. an-Nahl: 90, “. Allah menyeru berlaku adil dan berbuat kebajikan....”. Ini menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai keadilan ditegakkan dalam sebuah perekonomian.

Agar usaha untuk menegakkan keadilan dan bahkan ‘keihsanan’ ekonomi di kalangan rakyat Aceh, maka pemerintahan Aceh harus mendukung sepenuhnya, komit dan bahkan berani untuk merealisasikan penggunaan Dinar dan Dirham di Bumoe Syariat. Kita dapat merujuk pada ke dua Model Dinar Negeri Kelantan dan Negeri Perak di Malaysia. Dari empat belas Negeri Bagian yang ada di Malaysia, dua di antaranya telah resmi meluncurkan sekaligus menggunakan Dinar dan Dirham


Tepatnya, pada 2 Ramadhan 1432 (12 Agustus 2010), tercatat dalam sejarah bahwa Kerajaan Kelantan-Darul Naim merupakan Negeri pertama yang meluncurkan mata uang Syariah Dinar dan Dirham. Peluncuran itu dilakukan oleh Menteri Besar (red: setingkat Gubernur) YAB Dato’ Hj. Nik Abdul Aziz Nik Mat. Kelantan adalah Negeri Bagian yang berada di bawah kuasa partai oposisi yang berhaluan Islam, Partai Islam Semenanjung (PAS).

Di Kelantan, Menteri Besar mendorong masyarakat untuk memakai Dinar dan Dirham dalam transaksi sehari-hari, yaitu sebagai mata uang di samping tetap menggunakan Ringgit Malaysia (RM). Misalnya, untuk pembayaran gaji pegawai, transaksi di pasar rakyat, investasi, alat pembayaran zakat, dan mas kawin.

Begitu juga di Negeri Perak, Dinar dan Dirham bukanlah digunakan untuk menggantikan mata uang Ringgit Malaysia. Namun mereka menggunakannya hanya sebagai alternatif investasi dan tabungan, alat pembayaran zakat, dan juga sebagai ungkapan penghargaan terhadap prestasi, hadiah, bukti kasih sayang ketika pernikahan, kelahiran, dan momen kebahagiaan lainnya. 


Meski agak berbeda, poin penting yang dapat diambil sebagai contoh adalah kedua pemimpin tersebut telah memiliki keberanian dan komitmen untuk menghidupkan kembali Dinar dan Dirham di Tanah Melayu, sebagai upaya untuk menghapuskan riba dan menegakkan keadilan ekonomi.


Dirham Aceh Masa Kesultanan
Melihat ke dua model Dinar di atas, mungkin untuk tahap awal penggunaan Dinar dan Dirham di Aceh lebih cocok dengan menggunakan Model Dinar Negeri Perak. Dinar dan Dirham digunakan di samping mata uang Rupiah. Ianya hanya digunakan dalam transaksi tertentu, seperti membayar zakat, sebagai alternatif investasi dan tabungan, dan juga sebagai ungkapan penghargaan, bukti kasih sayang, mas kawin, hadiah pernikahan, kelahiran, dan momen kebahagiaan lainnya. Andaikata usaha ini berhasil, maka barulah Dinar dan Dirham itu digunakan dalam setiap bentuk transaksi masyarakat Aceh. Sudah tentu, semua ini butuh komitmen dan keberanian pemerintahan Aceh.

*Sumber : Direct Post Serambi Indonesia News | Wakala Induk Nusantara.

aceh atjeh cyber acheh | 336x280

HEADLINES
ISLAMPEDIA!

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh | TabView

→ Utama » Index »
→ News» Index »
→ Tech » Index »

aceh atjeh cyber acheh | WrapperRight