atjehcyber aceh | 728x90

aceh atjehcyber | catmenu

aceh atjeh cyber | #tag

acw atjeh cyber | Headline

TERPOPULER

acw atjeh cyber | commentWrapper

aceh atjeh cyber acheh 728x80

SHARE atjehcyber
Sumber Gambar - Kaskus.us

Isu merebak, gosip tersebar menyusul tersebarnya foto-foto anggota Timnas Aceh bersama wanita-wanita rupawan dari Paraguay. Penelusuran sebuah Media Online Aceh berhasil mengungkap kabar tentang siapa gadis-gadis yang tampak akrab bersama remaja Aceh yang sedang belajar sepak bola di Negara Paraguay itu. Isu dan kabar burung tersebut telah mengusik konsentrasi anak-anak Aceh dalam bermain bola sesaat tiba di tanah endatunya.

Setidaknya hasil penelusuran ini bisa menaikan kembali semangat Timnas Aceh untuk memperlihatkan kemampuan yang terbaik di kancah olah raga sepak bola Nanggroe Aceh Darusalam.

Berawal dari ketidakpuasan yang hanya bermain seri dengan Kesebelasan PPLP Jawa Tengah pada Minggu (20/11) kemarin, marah penonton memuncak dan memanas sampai lempar botol, robek spanduk, hujatan dan hinaan yang tidak terkontrol. Kemarahan pun berlanjut tampaknya di dunia maya.

Sampai-sampai foto-foto anggota Timnas Aceh yang hanya berdampingan dengan cewek-cewek Paraguay dipublish ke internet melalui ratusan akun facebook anak-anak Aceh penggemar sepakbola. Foto-foto tersebut biasa saja, memperlihatkan jejaka dan gadis sedang ceria berfoto bersama, berpakaian lengkap dan normal. Banyak foto serupa, bahkan lebih parah lagi, yang beredar di Facebook. Namun karena kemarahan sudah meluap-luap berbagai komentar negatif berhamburan ke anggota Timnas.

Hujatan dan hinaan serta aksi amarah penonton itu kini sudah mereda dan pelan-pelan terlupakan. Namun penyebaran gambar-gambar anak-anak Aceh di Paraguay bisa saja semakin terekpose dalam dunia maya apalagi banyak komentar hal-hal yang negatif.

The Globe Journal berusaha menelusuri siapa sebenarnya gadis-gadis rupawan dalam foto-foto tersebut. Berjumpalah dengan pihak-pihak yang berwenang menangani Timnas Aceh ini.

Padahal foto-foto itu sama sekali tidak ada yang luar biasa dan tidak porno,” kata salah seorang guru pembimbing yang juga ikut anak-anak itu ke Paraguay, Razali.

Razali yang sehari-hari mengajar di SMUN 11 Banda Aceh ini banyak bercerita kepada The Globe Journal, Selasa (22/11) terkait foto-foto tersebut. Ia mengaku hanya satu tahun di Paraguay bersama anak-anak sejak April 2010 sampai November 2011.

Ia dan tiga orang temannya yang juga sebagai guru setiap hari mendidik anak-anak ini di Paraguay yang semuanya sudah terdaftar di SMUN 9 Banda Aceh. Ketiga guru itu masing-masing bernama, Razali (SMU 11 Banda Aceh), Cut Fauziah (SMU 2 Banda Aceh) Mirza (SMU 9 Banda Aceh) dan Mahdalena (Guru Honor SMU 9 Banda Aceh).

Negara Paraguay adalah negara yang sangat bebas. Paraguay memiliki budaya bebas yang sangat berbeda dengan Indonesia apalagi di Aceh. Razali mengakui juga sempat melihat foto-foto itu di internet di akun facebooknya orang Aceh. Namun foto-foto itu menurutnya adalah bagian dari persahabatan anak-anak Aceh di Paraguay.

Razali berkisah pertama kali masuk ke Paraguay tanggal 28 April 2010 dirinya disambut dengan cipika-cipiki (cium pipi kiri-kanan-red) yang membuatnya sedikit shock. "Saya terkejut, tapi itu budaya mereka dalam menyambut tamu. Setelah beberapa bulan disana, saya jelaskan budaya Aceh dengan orang-orang Paraguay di sekitar asrama. Mereka kemudian mengerti," ujar Razali.

Di asrama tempat tinggal Timnas ada tukang masak paruh baya yang juga memiliki anak-anak gadis masih remaja. Bayangkan bagaimana rindunya anak-anak Aceh ini pada orang tuanya. Sehingga mereka menganggap tukang masak di asrama itu sudah seperti orang tuanya di Paraguay. “Saat lapar, mereka tinggal minta,” kata Razali.

Tukang masak di asrama itu bekerja dari pagi hingga malam hari. Setelah makan malam ibu-ibu tukang masak itu pulang. Namun terkadang ibu-ibu itu mengundang anak-anak Timnas makan ke rumahnya. Kemudian ada yang kenal dan bersahabat dengan anak-anak tukang masak itu, dan mereka berfoto biasa sebagai kenang-kenangan. "Itukan hal yang biasa. Apalagi anak-anak kita itu sangat manja dengan tukang masak di asrama," katanya lagi.

Masalah muncul begitu foto-foto tersebut dipublis didunia maya pasca Timnas tampil mengecewakan melawan Tim PPLP Jawa Tengah. Foto-foto itu dituding foto seronok. "Itu tidak benar, kalau mereka berfoto bugil itu yang menjadi masalah,” tegas Razali.

Ia bercerita jika musim panas lebih parah lagi cara berpakaian masyarakat Paraguay. "Kita berada di dunia Yahudi. Kita tidak bisa hindari maksiat, kita lihat cara orang Yahudi berpakaian juga sebenarnya sudah maksiat," ujarnya.

Namun Razali selalu memberikan pelajaran agama kepada anak-anak Aceh yang sedang belajar sepak bola di Paraguay itu. Setiap Maghrib sholat berjamaah, anak-anak juga berpuasa, kalau hari raya bahkan anak-anak dibawa ke Libanon.

"Kalau dianggap tidak ada maksiat tidak ada jaminan. Maksiat itu perbuatan sembunyi-sembunyi. Namun program agama tidak pernah kendor, kalau di asrama saya jamin tidak ada terjadi apa-apa,” kata Razali.

Guru SMU 11 Banda Aceh ini sangat menyesalkan adanya rumor negatif yang berkembang di internet. Ia menganggap ada orang-orang yang berkepentingan dan berniat buruk sengaja mempublis foto-foto anak-anak Aceh di Paraguay itu.

Razali dan tiga orang temannya mengaku hanya satu tahun di Paraguay. Namun sebelumnya ada empat orang guru dari SMU 9 yang mendampingi Timnas ke Paraguay sejak memulai program tersebut.

Program pengiriman remaja Aceh berlatih sepaka bola di Paraguay ini merupakan program pemerintah sejak tahun 2008. Kepala Bidang Olah Raga Dispora Aceh, Nuzuli kepada The Globe Journal, Selasa (22/11) di Hotel Cakradonya, tadi pagi mengatakan program ini menghabiskan anggaran APBA setiap tahunnya lebih kurang Rp11 miliar. Kalau ada tiga tahun berarti lebih kurang Rp33 miliar.

Awalnya program ini bekerjasama dengan agen dari Chili dibawah koodinator Nelson Sanchez. Namun muncul masalah karena tidak bisa masuk Paraguay. Sehingga setelah masalah selesai, program ini dilanjutkan kerjasama dengan lembaga International Trade Development (ITB S.R.L) dari Paraguay yang diketuai oleh Sergio Sanchez Haussman.

Di Paraguay, remaja Aceh ini dibawa oleh lembaga tersebut ke Museum Sepak Bola Amerika Latin yang sangat terkenal. Kemudian dibawa ke tempat-tempat sejarah sepak bola Amerika. “Selain melakukan kunjungan, anak-anak kita diajak berlatih dan bermain sepak bola dengan club-club muda dari Paraguay,” kata Nuzuli.

Nuzuli bercerita bahwa program ini akan berakhir hingga Desember 2011 ini. Ada 30 orang anak-anak Aceh yang berlatih di Paraguay itu kini semuanya sudah kembali ke tanah air. Nuzuli mengaku ada pembagian kelompok yang menurut pelatihnya Luis Sosa bahwa ada 18 orang yang bisa dimainkan untuk club dan 12 orang lagi masih perlu dilakukan pembinaan lanjutan.

18 orang Timnas ini sekarang diinapkan di asrama Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh dan belum mendapat izin untuk jumpa keluarga. “Sedangkan yang 12 orang lagi tinggal di Wisma Kuta Alam sejak April 2011 lalu,” demikian Nuzuli. []

Tidak ada Maksiat Timnas Aceh di Paraguay

Sebagaimana rumor beredar di internet terkait foto-foto “syur” pemain bola asal Aceh yang menimba ilmu di Paraguay selama tiga tahun dengan beberapa perempuan negara itu dibantah keras oleh Pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olah Raga Aceh.

Kepala Dispora Aceh, Hasan Basri, Selasa (22/11) mengatakan anak-anak itu selalu diingatkan agar berhati-hati bergaul di negara bebas seperti Paraguay.

“Saya selalu ingatkan anak-anak Aceh itu di Paraguay,” kata Hasan kepada The Globe Journal, Selasa (22/11).

Sementara Kabid Olah Raga Dispora Aceh, Nuzuli saat ditanyai persoalan tersebut di Hotel Cakradonya, Selasa (22/11) mengatakan ada 30 anak-anak Aceh yang dibawa ke Paraguay untuk berlatih sekolah sepak bola sejak tahun 2008 sampai 2011.

Biayanya bersumber dari APBA Aceh dan setiap tahun dialokasikan lebih kurang Rp11 miliar,” ungkap mantan Sekjen KONI Aceh ini.

Selain para pemain bola yang usianya 18 sampai 19 tahun itu. Pemerintah Aceh juga membawa empat orang guru pembimbing. Guru yang dimaksud adalah, Razali asal SMU 11 Banda Aceh, Cut Fauziah guru SMA 2 Banda Aceh, Mirza dan Mahdalena adalah guru SMA 9 Banda Aceh.

Ia mengatakan bahwa Negara Paraguay adalah negara bebas, sangat berbeda dengan Indonesia. Budaya di Paraguay saat menyambut tamu sangat berbeda dan harus bersentuhan pipi kanan dan pipi kiri. Berbeda dengan budaya Indonesia dalam menyambut tamu.

Ini harus kita sesuaikan dimana kita berada,” kata Nuzuli yang baru satu tahun menjabat sebagai Kabid Olah Raga di Dispora Aceh.

Anak-anak Aceh yang dibawa ke Paraguay ini sangat ketat diawasi, hand phone saja harus dimatikan mulai jam 10 malam dan pintu asrama di kunci. Bahkan anak-anak kita juga shalat dan mengaji dengan arahan dari guru-guru pembimbing itu.

Jelasnya tidak ada maksiat yang dilakukan oleh Timnas Aceh di Paraguay, sebagaimana muncul rumor-rumor negatif di internet,” tegas Nuzuli.

Ia mengaku tidak akan memperbesar masalah penyebaran foto-foto itu ke penegak hukum. Namun ia sangat menyesalkan kenapa bisa beredar di internet.

Itu foto-foto biasa, tidak ada yang luar biasa. Apalagi Paraguay itu adalah negara bebas. “Bayangkan anak-anak Aceh itu sudah tiga tahun di Paraguay, jauh dari orang tua. Guru-guru yang dikirim ke Paraguay sebagai orang tua bagi anak-anak itu dan semuanya mulai dari security, tukang masak, orang-orang yang ada di asrama sudah seperti keluarga bagi “timnas” Aceh di benua Amerika itu,” pungkas Nuzuli. Bahkan setiap hari raya kita bawa anak-anak ke Libanon.

Program pembinaan sekolah sepak bola dengan Paraguay ini adalah kerjasama Pemerintah Aceh dengan International Trade Development (ITD S.R.L) yang diketuai oleh Sergio Sanchez Haussman. Programnya akan berakhir Desember tahun 2011 ini.

Semua Timnas yang berjumlah 30 orang itu sudah dibawa pulang ke Aceh dalam dua tahap. Tahap pertama 12 orang dipulangkan pada April 2011. Sedangkan 18 orang lagi sampai ke Aceh pada November 2011. Begitu sampai di Aceh, anak-anak Timnas itu sudah harus main secara perdana dengan PPLP Jawa Tengah, di Stadion Harapan Bangsa, Minggu (20/11).

Kini anak-anak itu diinapkan di Wisma Kuta Alam sebanyak 12 orang. Sedangkan 18 orang lagi diasramakan di Stadion Harapan Bangsa sampai berakhirnya program ini, Desember 2011. “Kita akan re-schedulkan lagi program terbaru pada tahun 2012 mendatang,” demikian Kepala Bidang Olah Raga Dispora Aceh, Nuzuli.

***

aceh atjeh cyber acheh | 336x280

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh | TabView

→ Utama » Index »

aceh atjeh cyber acheh | WrapperRight