Join :
Citizen/Kirim Berita:

ATJEH CYBER WARRIOR™

atjehcyber aceh | 728x90

aceh atjehcyber | catmenu

Follow us:
Kirim Berita :

atjehcyber aceh | carousel

aceh atjeh cyber | #tag

acw atjeh cyber | Headline

acw atjeh cyber | commentWrapper

aceh atjeh cyber acheh 728x80

SHALAT ID ACEH

Oleh Sayed Fuad Zakaria (*

PEMERINTAH saat ini sedang giat mengaji penyatuan waktu di seluruh wilayah Indonesia dari tiga zona waktu menjadi satu zona waktu saja. Penyatuan zona waktu ini, menurut pemerintah akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Rencananya, penyatuan zona waktu akan diberlakukan pada 28 Oktober 2012, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Pro-kontra tentang rencana penerapan kebijakan ini terus bergulir. Pemerintah menganggap, dengan penyatuan zona waktu, industri perbankan akan lebih efisien. Sebagai ilustrasi, ketika perbankan di Papua sudah buka pada pukul 08.00 pagi, maka semua transaksi perbankan, terutama kurs, berpatokan pada kurs sehari sebelumnya karena pasar uang dan bursa baru dibuka 3 jam kemudian atau pada pukul 11.00 WIT atau pukul 09.00 WIB. Hal ini dianggap sangat merugikan.

Selain itu, jika pasar uang dan bursa dibuka pada waktu yang sama dengan Hong Kong dan Singapura, yang menjadi salah satu barometer ekonomi Asia, maka pasar uang dan bursa Indonesia akan semakin berkembang. Dampak negatif dari pasar uang dan bursa di negara lain seperti Hong Kong dan Singapura dapat dihindari karena pembukaan aktivitas yang bersamaan.

Pemerintah juga berargumen, perbedaan waktu antara Jakarta dan Papua terlalu jauh. Ketika Papua dan sekitarnya memulai aktivitas pada pukul 08.00 WIT, WIB belum bekerja. Saat WIB memulai aktivitas, pada pukul 08.00 WIB, wilayah Timur sudah jam 10.00 WIT dan pada pukul 14.00 WIB, Papua dan sekitarnya sudah selesai bekerja. Kondisi ini menyebabkan selisih waktu yang cukup banyak. Buntutnya, koordinasi dan transaksi ekonomi antarwilayah hanya tersisa 3-4 jam dari 8 jam kerja.

Pemerintah, dalam kajiannya juga merujuk Tiongkok yang wilayah sangat luas, hanya punya satu zona waktu. Begitu juga dengan Rusia, negeri dengan wilayah daratan terluas di dunia yang saat ini memiliki sembilan zona waktu juga tengah berencana mempersempitnya menjadi empat zona waktu. Namun Pemerintah tidak mau melihat Amerika Serikat yang juga luas dengan 9 zona waktu dan tidak menjadi masalah. Indonesia, hanya 3.

Pemerintah berkeyakinan, penyamaan waktu dengan negara-negara tetangga akan memicu penghematan dalam jumlah besar, baik jam kerja, transaksi, maupun aktivitas ekonomi. Apapun alasan pemerintah, jika hal itu baik, tentu harus didukung. Namun, yang menjadi pertanyaan, logiskan itu? Atau hanya menguntungkan sebagian pihak saja?

Kesepakatan internasional

Pada tahun 1884 dibuat kesepakatan internasional yang menetapkan setiap 15 derjat garis bujur selisih waktunya adalah satu jam. Dengan demikian, di seluruh dunia terdapat 24 daerah waktu. Pembagian 24 daerah waktu ini berdasarkan perhitungan kecepatan rotasi bumi (perputaran bumi pada porosnya), lingkaran bola bumi, dan lama rotasi bumi. Besar lingkaran bola bumi adalah 360 derjat. Sekali putaran penuh dibutuhkan waktu 24 jam. Dengan demikian, setiap jam bumi berputar sejauh 15 derjat. Titik nol atau pusatnya berasal dari Greenwich (GMT) yang berada di bujur 0o.

Wilayah Indonesia sangat luas. Indonesia terletak pada garis bujur 6°LU-11°08’LS dan dari 95°BT-141°45’BT. Artinya, Indonesia seluas 46° Garis Bujur yang jika dibagi 15°, maka Indonesia dapat dibagi menjadi 3 zona waktu. Berdasarkan kesepakatan di atas, Indonesia dibagi menjadi tiga daerah waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT).

Secara resmi, setelah melalui proses panjang, dari masa sebelum Indonesia merdeka sampai saat Indonesia merdeka, pada 1963, Indonesia hanya terbagi atas tiga zona waktu, yaitu barat, tengah, dan timur. Irian Jaya yang telah kembali ke dalam wilayah Indonesia masuk zona timur bersama daerah Maluku karena terletak pada 135 derajat bujur timur. Selisih waktunya dengan GMT adalah +9. Daerah Sumatera, Jawa, Madura, dan Bali masuk zona barat karena terletak pada 105 derajat bujur timur. Wilayah-wilayah ini berselisih +7 dari GMT.

Zona Indonesia Tengah meliputi Daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Letak bujurnya adalah 120 derajat bujur Timur dan berselisih +8 dari GMT. Itu artinya, ada selisih satu jam di tiap zona. Pembagian ini dikukuhkan melalui Keppres No. 243 Tahun 1963. Pembagian ini dimulai secara resmi sejak 1 Januari 1964.

Atas beberapa pertimbangan, seperti pariwisata dan keberatan sebagian kalangan, pemerintah mengeluarkan peraturan baru mengenai pembagian waktu melalui Keppres RI No.41 Tahun 1987. Tidak ada perubahan pembagian zona waktu dalam peraturan baru tersebut. Indonesia tetap terbagi atas tiga zona waktu. Hanya beberapa daerah yang ditukar zona waktunya. Bali, misalnya, masuk ke zona tengah karena pertimbangan pariwisata, sedangkan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik masuk ke zona barat dari zona tengah. Pembagian waktu ini berlangsung hingga sekarang.

Seperti uraian di atas, Indonesia membentang di 46° garis bujur yang artinya seharusnya dari Timur ke Barat memiliki selisih waktu 3 jam dalam penentuan zona waktu. Jika ditinjau dari saat matahari terbit, mengacu pada penyatuan zona waktu yaitu Waktu Kesatuan Indonesia (WKI) yang sama dengan GMT+8 atau Waktu Indonesia Tengah atau WITA, matahari terbit di Jayapura pada pukul 04.30 WITA dan Banda Aceh pada pukul 07.30 WITA sampai pukul 08.00 WITA.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang notabene beragama Islam, ada hal yang tidak bisa disatukan, yaitu waktu shalat. Waktu shalat sangat bergantung pada posisi matahari. Adzan subuh di Jayapura berkisar pada pukul 4.30 WIT atau 3.30 WITA dan Banda Aceh adzan subuh sekitar pukul 5.30 WIB atau 6.30 WITA. Secara garis besar dapat disimpulkan, adzan subuh satu jam lebih cepat dari matahari terbit di setiap daerah.

Dampak bagi Aceh

Seperti yang sudah digambarkan, dari sisi geografis, Aceh adalah lokasi dimana matahari terbit paling akhir di wilayah Indonesia. Jika pemerintah jadi mengimplementasikan penyatuan zona waktu menjadi WKI yang sama dengan WITA, maka masyarakat pulau Sumatera, khususnya Aceh, harus beradaptasi dan mengubah pola atau gaya hidup dalam beraktivitas. Segala sesuatu, diluar waktu shalat, harus dilakukan 1 jam lebih cepat.

Seandainya jadi diberlakukan WKI, jam kerja akan dimulai pada pukul 08.00 pagi. Secara jam memang sama. Namun dari sisi pola hidup akan sangat berubah. Selama ini, aktivitas perkantoran dimulai sekitar 2,5-3,5 jam setelah adzan subuh atau 1,5-2,5 jam setelah matahari terbit. Jika mengikuti keinginan pemerintah, maka nantinya aktivitas akan dimulai tepat pada saat matahari terbit atau sekitar 1,5 jam setelah adzan subuh.


Aktivitas mendasar di pagi hari yang semestinya dilakukan bagi ummat Islam adalah shalat subuh, menyiapkan sarapan dan sarapan, olahraga pagi, mandi dan setelah itu berangkat ke kantor atau tempat bekerja. Waktu yang dibutuhkan untuk itu semua adalah tepat jika dialokasikan 2-3 jam untuk daerah seperti Aceh yang belum begitu padat dan macet.

Artinya, Aceh secara geografis yang paling Barat dan paling akhir matahari terbit, tidak mungkin menerapkan keinginan pemerintah yang akan mewajibkan masuk sekolah serta kantor pada pukul 08.00 pagi WKI. Jika WKI tetap diberlakukan, Aceh tetap membuka dan memulai aktivitas 2 jam setelah matahari terbit atau sekitar pukul 09.00 pagi WKI. Itulah yang ideal.

* Sayed Fuad Zakaria, Anggota DPR RI asal Aceh. 
Email: sayedfuad_zakaria@yahoo.co.id (sumber)

Like → Tweet :


 Join → Follow :

aceh atjeh cyber acheh | 336x280

HEADLINES
ISLAMPEDIA!

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh | TabView

→ Utama » Index »
→ News» Index »
→ Tech » Index »

aceh atjeh cyber acheh | WrapperRight