Join :
Citizen/Kirim Berita:

atjehcyber aceh | 728x90

aceh atjehcyber | catmenu

aceh atjeh cyber | #tag

acw atjeh cyber | Headline

TERPOPULER

acw atjeh cyber | commentWrapper

aceh atjeh cyber acheh 728x80


NEW YORK -- Namanya Kara Allouzi. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Amerika Serikat. Sayangnya, ia ragu akan agama yang diwarisi dari kedua orang tuanya.

"Orang tua saya mewarisi saya agama Kristen. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga mengajarkan saya agama Islam. Mereka dulu bilang: 'jangan melakukan hal ini, jangan lakukan itu bukan karena kita mengatakan begitu, tapi karena Allah meminta kamu untuk tidak melakukannya'," katanya seperti dinukil dari Onislam.net.

Meski hati Kara dipenuhi keyakinan akan Islam, tapi ia merasa pengetahuannya kurang lengkap. Karena itu, ia pegi dan mencari bimbingan yang bisa mengisi kekosongan hatinya.

Ia sempat belajar agama lain, tapi hatinya menolak semua agama yang pernah dipelajarinya. Akhirnya ia melihat Islam sebagai pilihan terbaik.

"Jadi saya pikir seluruh hidup saya, saya adalah seorang Muslim. Tapi saya tidak tahu bagaimana menemukan Islam. Ayah saya adalah Katolik, ibu saya Protestan. Ketika ayah menikah dengan ibu, ayah saya 'dibuang' dari Gereja Katolik, jadi dia sangat kecewa dengan gereja," imbuh Kara.

Kekecewaan itu membuat orang tuanya membebaskan Kara menemukan agama yang nyaman dengan dirinya.

Saya takut memilih yang salah, kata Kara Allouzi parau. Ketakutan Kara datang lantaran ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya karena tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

"Mengapa saya tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan?", tanyanya suatu ketika, seperti dinukil dari Onislam.net.

Kara menuturkan, setiap kali pergi ke sebuah gereja yang berbeda, pengurus gereja tersebut mengatakan Kara akan masuk neraka jika tidak termasuk anggota gereja mereka.

Mereka berkata, "Jika Anda tidak termasuk ke gereja ini, Anda akan neraka, jika Anda tidak termasuk dalam gereja Anda akan neraka, jika Anda tidak termasuk ke gereja ini Anda akan ke neraka."

Ucapan itu membuat Kara dilanda ketakutan luar biasa. "Aku pergi ke ayah dan berkata, Saya takut saya memilih yang salah."

Karena Akhlak Suami

Akhirnya Kara Allouzi menemukan Islam setelah bertemu dengan seorang pria muslim yang mempersuntinggnya. Wanita 45 tahun itupun mengucapkan dua kalimat syahadat pada 1993.

Kara menyadari setelah memeluk Islam hidupnya berada dalam lingkaran keberkahan luar biasa. Diakuinya, ia menjadi seorang muslim bukan karena menikah dengan suaminya.

Kara mengaku terpesona dengan perilaku dan akhlak suaminya yang selalu memberikan contoh baik dan tulus serta sabar dalam membimbingnya ke jalan yang lurus dalam mencari kebenaran. (baca: Kara Allouzi: Islam Pilihan Terbaik).

Apalagi, suaminya juga mengajarkan anak-anak mereka dengan kasih sayang dan ajaran Islam. "Setelah kami menikah, saya mulai belajar tentang Islam. Sedikit demi sedikit, suami saya memberikan contoh yang sangat baik dari Islam, ia mencerminkan seorang muslim yang baik. Ia tidak pernah memaksa saya atau mendorong saya atau sesuatu seperti itu," papar Kara. (baca: Allouzi Bimbang tak Bisa Berkomunikasi Langsung dengan Tuhan).

Suatu ketika suaminya harus dirawat di rumah sakit, dan disaat yang sama ada sebuah sekolah Islam yang membuka penerimaan murid baru. Suaminya lalu ingin memasukkan anak-anaknya ke sekolah Islam tersebut. Kara menyanggupi permintaan suaminya.

"Setelah saya memasukkan mereka ke sekolah Islam, saya datang dan melihat betapa indahnya Islam itu. Dan sekolah itu benar-benar menunjukkan keindahan agama, bukan hanya sisi agama tapi juga cara hidup," katanya.

Pilihan Terbaik

Wanita 45 tahun itu mengatakan Islam dapat menenangkannya saat sedang kehilangan dan dilanda ketakutan.

"Apa yang akan saya katakan kepada non-muslim yang menonton program ini, saya percaya Anda sedang menonton program ini karena suatu alasan, karena Anda ingin tahu tentang Islam dan Anda ingin tahu apa yang terjadi padaku," kata Kara dalam satu pernyataan yang disiarkan onislam.net.

"Ini adalah pertanyaan besar yang kami miliki ketika kami non-muslim menjadi muslim. Sehingga Anda dapat melihat seorang muslimah dapat hidup normal dan memiliki banyak kedamaian serta diluputi sukacita."

Kara mengimbau kepada masyarakat yang sedang dilanda ketakutan untuk tidak mendengarkan perkataan orang lain. "Jangan berpikir tentang apa yang mungkin terjadi pada Anda, tetapi tahu apa yang akan terjadi pada Anda akan menjadi indah, dan mendengarkan hati Anda dan jangan mendengarkan orang lain."

Menurut Kara, berjuang menjadi lebih baik harus dilakukan terus menerus. "Sehingga perjuangan menjadi pribadi lebih baik tidak pernah berakhir," tegasnya.

Setelah memeluk Islam, Kara mengatakan pentingnya menyeimbangkan kehidupan jasmani dan rohani.

Ia lantas mendirikan ESL Center di Amman, Yordania, sebuah lembaga yang mengajarkan bahasa Inggris untuk orang-orang dewasa. Tujuannya tak lain untuk membagi ilmu.

"Ini benar-benar urusan keluarga. Suami saya membantu saya, dia melangkah masuk dan memberikan petunjuk dan menguatkan kelemahan saya. Suami saya melobi sejumlah kementerian dan masyarakat Yordania. Kekuatan saya adalah di akademisi, jadi kami bekerja bersama sebagai sebuah keluarga untuk mempromosikan ESL center kami. Tidak hanya untuk mengajar bahasa Inggris, tetapi juga mengajar pemahaman, toleransi, dan kesabaran antara dua budaya," paparnya seperti disadur dari Onislam.net.

Kara melanjutkan, "Di masa depan, kami berharap dapat membuka beberapa pusat lain di Timur Tengah, di wilayah Teluk, di Suriah dan Lebanon insya Allah."

Like → Tweet :
Join → Follow :

aceh atjeh cyber acheh | 336x280

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh | TabView

→ Utama » Index »
WOW!

aceh atjeh cyber acheh | WrapperRight