TRENDING TOPIC #PARIS ATTACK #USA vs RUSSIA #MOST VIDEO
Follow

atjehcyber thumbkanan

rental mobil di aceh, rental mobil aceh, jasa rental mobil aceh, sewa mobil di aceh, rental mobil banda aceh, sewa mobil di banda aceh

atjehcyber stick

#TAGatjehcyber Home / / /

“Kairo Tak Ingin Hamas jadi Pemenang”

Monday, July 14, 2014 01:22 WIB

Dibaca:   kali

atjehcyber, atjeh cyber, atjeh news, atjeh media, atjeh online, atjeh warrior, acehcyber, aceh cyber, aceh warrior, aceh cyber online, atjeh cyber warrior

Penulis Yordania, Uraib Rantawi menegaskan bahwa Kairo menyikapi agresi Zionis yang terjadi terhadap Jalur Gaza saat ini dengan dingin tidak biasa, untuk menghentikan perang dan kurang solider baik di tingkat resmi maupun tingkat rakyat, bahkan dibandingkan dengan apa yang terjadi pada masa Presiden Mubarak.

Dia mengatakan, di masa Mubarak diplomasi intelijen bergerak dengan sangat cepat dan menggesa tercapainya gencatan senjata. Konvoi bantuan dan delegasi solidaritas rakyat diizinkan pergi ke Jalur gaza, termasuk delegasi non Mesir. 

Gerbang Rafah juga dibuka untuk para pasien, korban luka dan mereka yang melakukan perjalanan secara umum, meskipun hubungan rezim Mesir saat ini dengan Hamas dan perlawanan Palestina secara umum tidak bagus. Namun rezim kala itu dibenci rakyat, bahkan sangat terisolir. 

Karena kekhawatiran dampak agresi Zionis ke Gaza terhadap opini publik Mesir, maka bergerak dengan cepat dan kuat.

Dia menambahkan, di era Presiden Mursi diplomasi intelijen Mesir berjalan normal, bersamaan dengan keberanian solidaritas rakyat, dan lebih bagus karena hubungan kedekatan ideologi antara pemerintah Mesir yang baru (Ikhwan Mesir) dengan gerakan Hamas (Ikhwan Palestina). 

Demo terjadi menyeluruh di Kairo, kedubes Zionis dikepung, ada upaya intensif yang berakhir dengan perjanjian November, untuk menghentikan serangan, yang disusul kemudian dengan perkembangan di antaranya adalah kunjungan Misy’al ke Jalur Gaza.

Sedang di era as Sisi saat ini sangat berbeda. Diplomasi Mesir kelihatan sangat berat mensikapi agresi Zionis. 

Pernyataan luar negeri Mesir justru berisi reaksi tidak bertanggung jawab atas darah orang-orang Palestina yang tumpah di jalan-jalan Gaza dan perkampungannya. Gerakan solidaritas rakyat sangat minim di jalan-jalan Kairo, Alexandria dan kota-kota lainnya.

Gerbang Rafah dibuka dengan malu-malu, sementara dan terputus-putus. Ada keputusan untuk mencegah delegasi solidaritas dan konvoi bantuan untuk masuk ke Jalur Gaza.

Sebagian media dengan tidak malu-malu “berpartisipasi dalam agresi ke Jalur Gaza”. Semua rakyat disamakan dengan Hamas dan hubungan khususnya dengan Ikhwan Mesir yang dianggap 'Teroris'.

KOMENTAR
DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Artikel Pilihan Pembaca :

mobile=show

Copyright © 2015 ATJEHCYBER — All Rights Reserved