atjeh cyber
Join Us:

ATJEH CYBER WARRIOR™

aceh atjeh cyber acheh | 728x90

aceh atjeh cyber acheh | catmenu

Join Us:
Follow Us:

aceh atjeh cyber acheh | carousel

aceh atjeh cyber acheh | #tag

aceh atjeh cyber acheh | 970x90

acw atjeh cyber | 160x600

acw atjeh cyber | Headline

acw atjeh cyber | commentWrapper

aceh atjeh cyber acheh 728x80

Mungkin sudah digariskan, Aceh menjadi daerah konflik sepanjang masa. Hal ini terlihat dari sebuah buku karangan Anthony Reid, seorang ahli sejarah Asia Tenggara yang pernah belajar di Selandia Baru dan Cambridge. Dalam buku yang diberi judul “Asal Mula Konflik Aceh” itu disebutkan bahwa Aceh sudah bergejolak dalam konflik sebelum bergabung bersama Indonesia hingga akhir abad 19, saat Aceh ditetapkan menjadi salah satu wilayah Kesatuan Republik Indonesia, pun Aceh dalam konflik.

Menurut Reid, dalam buku itu, jika pada tahun 1870-an, orang Aceh pernah menjadi korban agresi Belanda dan realpolitik Inggris, selanjutnya Aceh juga menjadi korban tak berdosa dari negara yang merangkulnya menjadi sebuah wilayah kesatuan republik. Tak cukup sampai di situ, kekaguman Reid, yang saat ini menjadi Direktur Asia Research Intitute di National of Singapore, mengatakan bahwa Aceh sebagai korban tak bersalah juga harus mengalami derita setelah diamuk gelombang tsunami.

Mungkin, anggapan bahwa Aceh adalah laboratorium percobaan memang tepat sekali dan sebagai wadah percobaan, Allah swt. pun melakoni itu. Lihat saja, gejolak kekacauan di Aceh belum pudar hingga sekarang. Jika zaman indatu Aceh dicoba dengan perang melawan kaphé Beulanda, setelah Belanda angkat kaki dari Bumi Fansuri ini, perang tetap berlanjut. Perang cumbok hingga pemberontakan DI/TII merupakan percobaan demi percobaan untuk Aceh. Setelah merdeka pun, perang masih juga ada. 

Kemudian, Aceh dicoba melalui metode baru, yakni air laut naik ke darat. Pasca-air laut naik, pun kenyataannya konflik masih juga belum berakhir di Bumi Iskandar Muda ini. Masalah pembagian bantuan kepada korban bencana saja, tetap menimbulkan konflik. Hal itu masih ada sampai sekarang. Demikian hebatnya Aceh dalam konflik hingga daerah ini pun mendapat gelar sebagai laboratorium percobaan atau mungkin pula sebagai laboratorium konflik, sehingga Indonesia yang mengakui Aceh sebagai salah satu wilayah kesatuannya, pun ikut-ikutan menggelar percobaan di Aceh. 

Percobaan ala Indonesia itu sangat jelas dengan beberapa ketetapan dan kebijakan untuk Aceh semisal dicoba beri julukan daerah istimewa, lantas dicoba dengan kebijakan syariat Islam, mungkin pula penerapan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU PA) juga salah satu percobaan Indonesia apakah Aceh mampu mengelola daerahnya atau tidak.

Kendati mengalami gejolak percobaan panjang dan berliku, bermula konflik di Aceh, menurut buku Reid ini, Aceh tidak pernah menjadi pemberitaan utama dunia. Melatarbelakangi anggapan tersebutlah, Reid akhirnya memutuskan untuk mengadakan penelitian tentang Aceh. Penelitian tersebut dirangkumnya menjadi sebuah disertasi pendidikannya saat di Cambridge University. Disertasi doktoral itu kemudian dijadikannya sebuah buku bertajuk “Asal Mula Konflik Aceh”.

Laiknya sebuah disertasi, data dan fakta dalam buku ini juga dapat dijadikan sebagai pembenaran terhadap kisah panjang konflik di Aceh. Mulanya disertasi tersebut masih dalam bahasa Inggris. Agar dapat dibaca oleh bangsa Melayu pada umumnya dan Indonesia (Aceh ) khusunya, disertasi tersebut diterjemahkan oleh Masri Maris dan diterbitkan oleh Yayasan Obor. Penerjemahan disesuaikan dengan kondisi realitas yang ada. Hal ini diakui langsung oleh Masri dalam pengantarnya terhadap buku tersebut. Kendati demikian, teks asli dari disertasi Reid masih utuh, sebab ia diterjemahkan dengan utuh. “Kecuali judulnya,” tulis Masri.

Buku setebal 372 halaman itu juga dilengkapi dengan lampiran foto-foto sejarah Aceh masa lampau, data statistik penduduk Belanda di Aceh semasa menjajah daerah ini—baik yang tewas dalam perang maupu karena penyakit, dan sebagainya. Kecuali itu, buku ini juga dilampiri dengan statistik perdagangan Aceh masa silam semisal perdagangan Penang dan Aceh, juga dilengkapi dengan indeks.

Sebagai sebuah buku sejarah, “Asal Mula Konflik Aceh” ini penting dibaca oleh siapa saja, terutama bagi peneliti yang hendak tahu lebih banyak tentang Aceh, agresi militer, dan geliat Belanda dalam menerapkan politik perdagangannya hingga menjadi bangsa penjajah. Belanda dikenal orang Aceh dengan kelicikan pola pemerintahan dan pertaniannya diulas secara rinci oleh Reid. Reid mengumpulkan data-data sejarah tersebut dari arsip historis bangsa Eropa (terutama Belanda dan Inggris) sehingga sulit dibantah kebenarannya bahwa Aceh memang daerah modal.

Review Buku : ASAL MULA KONFLIK ACEH

Judul : Asal Mula Konflik Aceh
Sub Judul : Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19
Judul Asli : The Contest for North Sumatera: Acheh, the Netherlands and Britain 1858-1898
Hak Cipta : Oxford University Press, 1969 University of Malaya, 1969
Penulis : Anthony Reid
Penerjemah : Masri Maris
Penerbit
: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Edisi Pertama : Juli 2005
Kategori : sejarah, politik,

aceh atjeh cyber acheh | 336x280

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh | TabView

→ Utama » Index »
→ News» Index »
→ Tech » Index »

aceh atjeh cyber acheh

aceh atjeh cyber acheh | WrapperRight