Join Us:

ATJEH CYBER WARRIOR™

aceh atjeh cyber acheh | catmenu

Join Us:
Follow Us:
Kirim Berita :

aceh atjeh cyber acheh | carousel

aceh atjeh cyber acheh | #tag

aceh atjeh cyber acheh | 970x90

Ke Aceh, keraton! Sarang segala kejahatan 
Persekongkolan, pembajakan dan khianat berkecamuk 
Tumpas semua selingkuh, hajar si laknat 
Dengan sang Tiga Warna Belanda "peradaban" tumbuh .. 

BAIT di atas adalah petikan Lagu Militer Aceh yang diciptakan P. Haagsma pada 1877. Dimaksudkan untuk membakar semangat pasukan Belanda ketika datang ke Aceh dan menumpas "para pemberontak", lagu itu terdengar megah membahana-tapi di lapangan lain ceritanya. Pasukan Belanda sempat bingung menghadapi perlawanan gerilya yang cuma mengandalkan senapan lantak, tombak, dan kelewang.

Wilayah paling barat Hindia Belanda ini memang baru belakangan dilirik. Itu pun akibat keinginan gubernur jenderal memperluas kekuasaan di Pulau Andalas. Wartawan asal Belanda, Paul van 't Veer, dalam bukunya Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, mengungkapkan kekhawatiran Menteri Jajahan Belanda, James Loudon, yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal C.F. Pahud. Loudon menulis, "Saya menganggap setiap perluasan kekuasaan kita di Kepulauan Hindia sebagai langkah menuju keruntuhan kita, dan lebih-lebih pula karena, dalam hal ini, kekerasan itu telah tumbuh melampaui kesanggupan kita." Surat itu ditulis pada 8 Juni 1861.

Tapi Gubernur Jenderal ngotot melancarkan petualangan ke Pulau Sumatera, sambil mencari peluang makin mengisi kas negara. Di luar pengetahuan Gubernur Jenderal, kala itu, Aceh, yang masih dikuasai sejumlah raja, telah lama memiliki kontak dengan dunia luar. Pengaruh kesohoran Pelabuhan Malaka mengimbas pada Aceh, yang menjadikan dirinya wilayah yang terbuka dengan dunia luar.

Mungkin banyak orang tak tahu, perang di Aceh terjadi hingga empat kali. Perang pertama dimulai pada 1873, perang kedua pada 1874-1880, perang ketiga pada 1884-1896, dan terakhir pada 1898-1942. Perang pertama dan kedua bisa dibilang gagal total: Belanda tak menguasai peta dan realitas medan. Padahal, ketika itu, mereka mengerahkan 5.000 prajurit dan pekerja paksa serta 118 perwira. Ada juga soal teknis yang kedengaran sepele tapi berakibat fatal. Tentara Belanda ketika itu baru saja mengganti persenjataan.

Tadinya mereka menggunakan bedil lama, yang pelurunya diisi dari depan, lalu diganti bedil baru, Beaumont mereknya, yang pelurunya diisi dari belakang. Karena penggantian senjata dilakukan dekat menjelang ekspedisi ke Aceh, para prajurit kekurangan waktu berlatih. Kapal yang digunakan berlayar ke ujung Pulau Sumatera itu pun tak semuanya jempolan. Banyak kapal berusia lanjut, ketel uapnya bocor, terbatuk-batuk, toh dipaksakan mengarungi Samudra Hindia.

Dengan kegagalan dua perang menaklukkan Aceh, Belanda juga mencari strategi lain. Kebetulan, ketika itu, seorang sarjana Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, sedang melakukan penelitian di Pulau Jawa. Doktor teologi dan kesusastraan di Universitas Leiden ini menulis disertasi tentang kesusastraan semitis. Secara praktis ia ahli etnologi, sejarah agama, dan filologi. Ia pernah tinggal enam bulan di Mekah. Pada 1889, ia ke Hindia Belanda untuk mempelajari agama Islam. Ia segera direkrut menjadi penasihat pemerintah untuk bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam.

Pada Juni 1891, Snouck pergi ke Aceh dan menetap beberapa bulan di sana. Snouck berpendapat, untuk menghentikan perlawanan masyarakat Aceh, diperlukan kekuasaan yang sangat unggul, yang sanggup memberikan hak, bahkan kewajiban, kepada orang Aceh terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia Islam. Dengan kata lain, Snouck menganjurkan-dan ini disetujui oleh Van Heutsz, perwira militer yang kemudian menjadi gubernur jenderal pada 1904-1909-Aceh harus diperangi habis-habisan.

Laporan-laporan Snouck Hurgronje membuat pasukan Van Heutsz lebih percaya diri. Mereka jadi tahu seluk-beluk geografi setempat, adat istiadat masyarakat, serta soal ajaran agama yang dianut oleh "raja-raja biadab" (ces princes sauvages) tersebut. Pada 1898, kapal-kapal perang Belanda kembali membuka layar menuju Pulau Sumatera. Sayang, rasa percaya diri yang tinggi dan pengetahuan memadai tak cukup untuk menaklukkan Aceh.

Banyak korban jatuh di pihak Belanda. Belum lagi kerugian ekonomi akibat perang. Selama setengah abad bertarung dengan Aceh, lebih dari 100 ribu orang mati dan 500 juta gulden terbuang percuma. Pers di Batavia pun turut mencibiri kegagalan itu. Mengapa duet Van Heutsz-Snouck tak berjaya? Seorang mantan Gubernur Aceh yang juga bekas opsir militer, C. Deykerhoff, pernah menulis keraguan atas strategi yang dikembangkan Snouck.

"Andaikata Dr. Snouck Hurgronje mengenal watak para gerilyawan... (yang) sangat mengenal medan dan jarang sekali memberi kita kesempatan memukulnya," tulisnya, "Memukul gerilyawan, sedapat mungkin dengan menghindarkan terlibatnya penduduk walaupun ada di antaranya yang bersikap ragu-ragu, seperti yang diinginkan oleh Dr. Snouck Hurgronje, adalah khayal belaka."

Paul van 't Veer mengungkap pula nama R.A. Kern, pejabat penasihat untuk urusan bumi putra dan golongan Arab, yang juga mengkritik kebijakan Snouck. Kern mengatakan, Snouck keliru karena strateginya justru memperkukuh kekuasaan kaum uleebalang untuk melawan kaum ulama fanatik. Snouck berpikir, dengan menguasai kaum ulama, Belanda bisa menguasai Aceh-tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Namun Snouck tak selamanya kalah. Dalam pertarungan di Tanah Gayo dan Alas, ia membuktikan bahwa hasil studi ilmiahnya bisa dipakai untuk kepentingan militer Belanda. Pada 8 Februari-23 Juli 1914, di bawah pimpinan Letkol G.C.E. van Daalen, pasukan Belanda mencoba menaklukkan Tanah Gayo dan Alas. Untuk ekspedisi ini, Gubernur Van Heutsz memilih sejumlah perwira dan brigade terbaiknya.

Berkat studi Snouck, tentara Belanda mendapat pengetahuan yang lebih dari cukup tentang kondisi lembah dan gunung di sekitar Gayo. Pertempuran hebat terjadi dan banyak jatuh korban dari kalangan orang Gayo. Sebanyak 2.902 orang tewas-1.159 di antaranya perempuan dan anak-anak. Belanda kehilangan 26 serdadu, yang mati, dan 70-an terluka.

Kehebatan perang yang dilakukan orang Aceh diakui oleh seorang wartawan Belanda yang juga pernah ikut dalam dinas militer di Hindia Belanda, H.C. Zentgraaff. Pada usia 20 tahun, Zentgraaff masuk ketentaraan dan ditugasi ke Hindia Belanda. Ia ikut dalam ekspedisi ke Jambi pada 1902 dan ke Bone pada 1905. Ia banyak menulis di koran Java Bode, Bataviaasch Nieuwsblad, Nieuws van den Dag, dan Nieuwe Soerabaja Courant, dan sempat menjadi redaktur kepala Java Bode.

Dalam bukunya, Zentgraaff memberikan kesaksian, baik pria maupun wanita di Aceh berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Zentgraaff menulis, "Tentara kita tidak perlu merasa terkicuh oleh muslihat murah dan ejekan hambar pihak lawan yang berkali-kali mengalahkan kita.... Kemenangan kita atas bangsa yang gagah berani ini dengan mutu tempurnya yang gilang-gemilang, yang tidak takut mati itu...."

Zentgraaff juga menulis bahwa "orang Aceh bukanlah orang yang tak tahu membalas budi." Ia berkisah tentang Scheepens, orang Belanda komandan divisi dan sekaligus kepala pemerintahan sipil di Aceh, yang dihormati orang-orang Aceh. Dalam tugasnya sebagai kepala pemerintahan di Aceh, Scheepens memimpin sidang meusapat, pengadilan lokal untuk memutus perkara pemukulan yang dilakukan seorang rakyat Aceh terhadap seorang putra uleebalang. Pasalnya, putra uleebalang ini mengganggu istri penggugat.

Dalam tradisi setempat, kalangan ulama atau masyarakat sebenarnya pasrah jika seorang putra uleebalang bertindak semaunya. Seraya berangkat ke meusapat, Scheepens berkata kepada istrinya, "Tikus ini ada ekornya...." Maksudnya, sang tertuduh, putra uleebalang, punya atribut lokal yang membuatnya berstatus sosial lebih tinggi daripada penggugat. Tapi Scheepens sudah punya putusan. Putra uleebalang tadi harus dihukum tiga bulan penjara.

Sang uleebalang, yang hadir di persidangan, tak menerima putusan itu. Segera ia mencabut rencongnya dan menikam perut Scheepens. Pengunjung sidang marah dan mengeroyok sang uleebalang. Scheepens sendiri berusaha menenangkan massa. Dan dalam masa menanti ajalnya, Scheepens terus ditemani oleh orang-orang Aceh yang setuju dengan sikap adilnya. Bayangan masyarakat Aceh macam ini mungkin tak pernah mampir dalam benak Snouck Hurgronje. [ Atjeh Cyber Owner ]

Tahun 1602, Abdul Hamid beserta rombongan tiba di Belanda. 
Untuk menjalin hubungan dengan kerajaan Belanda, Raja Aceh, Sultan Alauddin Al Mukamil mengutus Abdul Hamid ke negeri kincir angin tersebut. Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, tapi pada 9 Agustus Abdul Hamid meninggal di negeri Eropa itu dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.

Menurut Prof Osman Raliby dalam sebuah tulisan tentang Aceh, dunia orang Aceh berubah cepat karena pengaruh agama Islam. Hal itu kemudian ditambah dengan bersentuhannya Aceh dengan pedagang-pedagang internasional yang mencari rempah-rempah ke Aceh sejak abad ke 14.

Namun, sejak 18 Agustus 1511, Portugis yang menduduki Malaka menjadi ancaman bagi perdagangan rempah-rempah di Aceh. Raja Aceh yang sudah melakukan kontak dagang dengan kerajaan-kerajaan Islam di India, Persia, Mesir, Turki, dan Bandar-bandar dagang di Laut Merah, menyadari hal tersebut. Akan tetapi tetap menjaga hubungan dengan Portugis.

Persaingan dagang kemudian membuat hubungan itu renggang, karena Portugis berhasrat untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka. Karena itu pula Portugis berusaha menghentikan semua pengangkutan rempah-rempah dari pelabuhan Aceh.

Malah, pada tahun 1520 Laksamana dan Raja Muda Portugis di Goa, Dirgo Lopez De Sequeira mengancam dengan mengultimatum akan menyerang kapal-kapal yang melakukan kontak dagang dengan Aceh. Aceh dan Portugis pun menjadi musuh bubuyutan di selat Malaka.

Sembilan tahun kemudian (1529) Portugis ingin merebut pelabuhan Pidie dan Pase yang menjadi bandar perdagangan rempah-rempah. Namun usaha Portugis tersebut gagal. Raja Aceh berhasil menghalau Portugis untuk kembali ke Malaka. Malah pada Desember 1529, kapal-kapal Aceh muncul di depan Canannore di Pantai barat India, membantu armada Raja Kalicut yang bertempur melawan angkatan laut Portugis di Goa.

Selanjutnya, menurut Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh, dalam tahun 1599--saat itu Aceh dipimpin Sultan Alauddin Riayatsyah yang dikenal dengan sebutan Sayid Al Mukammal (1588-1604)— Belanda datang ke Aceh merintis perdagangan rempah-rempah.

Orang pertama Belanda yang datang ke Aceh itu adalah dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman. Keduanya diutus oleh Zeewsche reeder Balthazar de Moecheron, Belanda. Keduanya datang dengan dua kapal besar dan berlabuh di Pelabuhan Kerajaan Aceh.

Menyadari adanya misi dagang Belanda ke Aceh, Portugis yang sudah duluan menduduki Malaka menghasut Kerajaan Aceh untuk tidak menerima misi dagang Belanda itu. Pasalnya, Portugis tetap berkeinginan untuk memonopoli perdagangan renpah-rempah. Apalagi waktu itu Portugis bermusuhan dengan Belanda.

Raja Aceh pun terpengaruh, dua utusan dagang Belanda itu, Frederick de Houtman dan Cornelis de Houtman ditahan. Karena negoisasi ekonomi yang gagal maka Cornelis pun kemudian dibunuh. Sementara Frederick ditangkap dan ditawan. Kedua kapal Belanda itu pun berlayar kembali ke Middelburg, Belanda.

J Kreemer, seorang penulis Belanda dalam buku “Atjeh” menjelaskan, pada November 1600 Paulus van Caerden, teman sepelayaran dengan Pieter Both memerintahkan kembali dua buah kapal dari Brabantsche Compagnie untuk merintis hubungan dagang dengan Aceh.

Paulus van Caerden berhasil membuat suatu perjanjian dagang dengan Aceh, tapi karena saat itu Aceh masih terus dihasut oleh Portugis untuk tidak bekerja sama deangan Belanda. Muatan rempah-rempah dibongkar kembali dari kapal Belanda, mereka pun kembali ke Belanda tanpa hasil apa-apa.

Saat itulah Federick de Houtman berhasil lari dari tawanan orang Aceh dan naik ke kapal Van Caerden untuk melarikan diri. Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya dan kembali menyerahkan diri kepada Sultan Aceh. Cerita tentang peristiwa tersebut terangkum dalam De Europeers in den Maleishen Archipel, dan Het handelsverdrag van V Caerden, dalam buku J.E Heeres: Corpus Diplomaticum. Sebuah catatan tentang diplomasi dagang Belanda ke Malaka.

Pun demikian, Belanda terus berusaha untuk merintis perdagangan rempah-rempah ke Aceh. Diminasi Portugis di Selat Malaka dalam perdagangan ingin direbut Belanda. Karena pedagang pedagang dari Belanda terus saja berdatangan ke Kerajaan Aceh untuk melakukan kontak dagang hubungan dagang antara Aceh dan Portugis jadi putus.

Hubungan dagang Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda pun resmi terjalin pada tahun 1601. Ketika itu Raja Belanda, Print Maurist melalui utusannya ke Aceh yang merintis kembali urusan dagang, mengirim sepucuk surat serta hadiah-hadiah dari Kerajaan Belanda untuk Raja Aceh.

Pedagang-pedagang dari Belanda yang membawa surat dan hadiah tersebut datang dari misi dagang Gerard le Roy dan Laurens Bicker dengan beberapa buah kapal dari maskapai Zeeuw yang merupakan sebuah eskader dari Middelburg.

Utusan Raja Belanda itu ipun diterima dengan baik oleh Raja Aceh. Kepada mereka diberikan ijin mendirikan maskapai dagang untuk membeli rempah-rempah di Aceh. Sementara Frederick de Houtman dan teman-temanya yang ditahan oleh Sultan Aceh dibebaskan.

Ketika kapal Zeeuw berangkat dari Aceh membawa rempah-rempah ke Belanda, Sultan Aceh mengirim utusannya ke Belanda dengan menumpang kapal tersebut untuk menguatkan perjanjian persahabatan antara Aceh dan Belanda. Utrusan Aceh yang dikirim Sultan Alauddin Riayatsyah al Mukamil itu adalah, Abdul Hamid, duta besar Kerajaan Aceh, Laksamana Sri Muhammad, Mir Hasan, dan seorang bangsawan Aceh, serta penerjemah Leonard Werner.

Rombongan ini tiba di Belanda pada bulan Agustus 1602. kedatangan mereka disambut besar-besaran. Pada 9 Agustus Duta besar Aceh, Abdul Hamid meninggal di sana dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland. Sejarah pertemuan duta Aceh dengan Raja Belanda, Print Maurist tersebut kemudian ditulis oleh Dr. J. J. F. Wap dalam buku “Het gezantschap van den sultan van Achin (1602) aan Print Maurits van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek,” 1862.

***

Iskandar Norman, iskandarnorman.multiply.com

Jauh setelah perang usai, para serdadu satuan tempur khusus Marsose mengenang Aceh sebagai sebuah paradoks; ladang pembantaian musuh sekaligus kuburan yang mereka gali untuk mereka sendiri.

MENJELANG tengah malam, Kamis 10 September 1926, Teungku Peukan memanggil tiga panglima perang andalannya; Said Umar, Nyak Walad dan Waki Ali. Ketiganya diminta segera mengumpulkan pasukan di Meunasah Ayah Gadeng Manggeng. Sebuah rencana sudah disiapkan. Mereka akan berperang, menyerbu kompi Marsose di Kota Blangpidie.

Tapi, di meunasah itu, Teungku Peukan tidak menjabarkan strategi serangan frontal yang sudah disiapkan sejak sepekan terakhir. Dia meminta para pejuang mengikuti ritual wirid dan zikir. Hajatan malam itu selesai. Di ujung pertemuan, Teungku Peukan mengobarkan semangat jihad kepada para pengikutnya, agar tidak gentar melawan serdadu Marsose.

Pertemuan tidak selesai di situ. Teungku Peukan kemudian meminta para pejuang, yang jumlahnya hampir 200 orang, berjalan kaki hingga 20 kilometer menuju Balee Teungku di Lhoong Dayah Geulumpang Payong. Mereka tiba di balee itu pada Jumat dini hari. Di sana, pasukan mengkuti briefing. Pimpinan pasukan menjabarkan rencana serangan.

Pembantaian Marsose di Kutareh, Gayo. Terlihat salah seorang serdadu sedang menginjak Mayat.
Waktu itu semua pejuang Aceh diwajibkan memakai pakaian serba hitam dan melilitkan kain kuning di pinggang. Para pejuang diwajibkan menyingsingkan celana sejengkal di atas mata kaki untuk menciptakan kesan sigap dan tidak sombong. Pimpinan pasukan juga berpakaian sama, tapi dilengkapi selempang kuning yang menyilang di bahu hingga pinggang.

Usai shalat subuh, pekik takbir membahana. Dalam sisa-sisa gelap sebelum fajar muncul di langit timur pada pagi hari yang disucikan itu, semua pejuang tiba di Blangpidie dengan klewang dan rencong terhunus. Mereka menyerang tangsi dari tiga sektor. Sektor pertama, yang dipimpin Said Umar, menyerang dari depan. Dua lainnya, dipimpin Wakil Ali dan Nyak Walad, menyerang tangsi Marsose dari kiri dan kanan.

Serangan fajar itu dilakukan dengan sporadis. Serdadu di menara pengintai ditikam dari belakang. Ratusan lainnya, yang sedang tertidur pulas di barak, diserang tiba-tiba. Serdadu Marsose yang dikenal dengan sebutan “Belanda Hitam” (pribumi yang direkrut untuk menjadi tentara bayaran di kemiliteran Belanda ), kocar-kacir. Tangsi berantakan. Senjata api dirampas. Sedikitnya 70 Marsose tewas. Sebagian lainnya terluka dan melarikan diri. Hanya tiga orang yang selamat hidup-hidup dan kemudian ditawan.

Di kubu pejuang Aceh, lima orang tewas.

Menyambut kemenangan perang ini, Teungku Peukan maju ke depan dan mengumandangkan azan. Ini sudah biasa dilakukannya di medan pertempuran. Tapi sayang, harga kemenangan ini sungguh mahal. Teungku Peukan gugur. Ketika azan belum selesai, seorang serdadu Marsose yang bersembunyi di sebuah bilik di Tangsi menembaknya. Teungku Peukan rubuh bersimbah darah. Sebutir peluru karaben menembus dadanya.

Teungku Muhammad Kasim, putra Teungku Peukan, sangat marah ketika mendapati ayahnya sudah tak bernyawa. Ia mengamuk. Pecahan kaca di tangsi digenggamnya kuat-kuat, hingga darah mengucur di lengan kanannya. Ia berlari mengejar serdadu Marsose itu, ingin menikamnya. Tapi, ia kalah cepat, seorang serdadu lain lebih dulu menembak. Teungku Muhammad Kasim rubuh. Ia gugur, menyusul ayahnya.

Di siang yang hening, Jumat 11 September 1926, Teungku Peukan dimakamkan tidak jauh dari lokasi ia tertembak, di sekitar Mesjid Jamik Blangpidie.

Dalam berbagai literatur sejarah, “Serangan Fajar 11 September 1926” dikenal sebagai salah satu pertempuran paling ganas sepanjang sejarah Marsose di Aceh.

Di masa-masa itu, Bakongan Aceh Selatan juga menjadi salah satu tempat paling menakutkan bagi Marsose. Banyak anggota pasukan khusus yang ditugaskan ke daerah ini “pulang tinggal nama”. Kisah yang paling menakutkan bagi Marsose adalah hampir setiap pekan “Kapal Putih” milik angkatan perang Belanda mengangkut puluhan mayat rekan-rekan mereka dari Bakongan menuju Kutaraja (Banda Aceh).

Gejolak perlawanan pejuang Aceh yang paling sulit ditaklukkan di Bakongan yakni jihad yang dikomandoi Teungku Raja Angkasah. Dalam upaya perburuan Angkasah dan pengikutnya, kesatuan Marsose kehilangan banyak anggotanya.

Teungku Raja Angkasah mulai memimpin perlawanan pada awal tahun 1925. Pasukan yang dipimpinnya berhasil memerangi Marsose. Hampir setiap hari ada satu atau dua serdadu Marsose terbunuh. Kondisi ini membuat militer Belanda gusar, hingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan satu markas Marsose di Bakongan. Sebelumnya, markas pasukan khusus itu hanya ada lima di seluruh Aceh, masing-masing Indrapuri (Aceh Besar), Jeuram (Aceh Barat), Tangse (Pidie), Peureulak (Aceh Timur) dan Takengon (Aceh Tengah).

Tapi sayang, perlawanan Teungku Raja Angkasah akhirnya terhenti. Ia gugur tertembak pada pertengahan 1928, di tangan seorang perwira Belanda bernama Kapten Paris.

Note Pasukan Marsose merupakan orang-orang pilihan dari KNIL, dan sebagian besar adalah bumiputra. Anggota dari kalangan bumiputra ini biasanya direkrut dari etnis di wilayah yang telah ditaklukkan oleh Belanda, Sebagian besar berasal dari Jawa, Ambon, Menado, dan Timor. (Seperti yang terlihat dalam gambar di Atas)

SEPUTAR ACEH , seputaraceh.com
Masyarakat Aceh berbondong mendatangi pusat penjualan daging.

1. Asal-usul
Masyarakat Aceh memiliki tradisi unik yang disebut Meugang yang berfungsi untuk menghormati datangnya hari-hari besar Islam. Di tempat lain juga ada tradisi serupa, namun ada perbedaan yang nyata dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat Aceh. Misalnya menjelang puasa orang ramai berziarah ke makam-makam leluhur atau mendatangi tempat-tempat pemandian untuk melakukan ritual mandi. Di Jawa Tengah dikenal dengan nama Padhusan, di daerah Riau dan Sumatra Barat dan sekitarnya disebut Mandi Balimau, serta di Tapanuli Selatan disebut Marpangir. Sementara di Aceh, dua hari menjelang bulan puasa masyarakat akan beramai-ramai mendatangi pasar untuk membeli daging sapi.
Tradisi Meugang atau yang juga dikenal dengan berbagai sebutan, antara lain Makmeugang, Memeugang, Haghi Mamagang, Uroe Meugang atau Uroe Keumeukoh merupakan rangkaian aktivitas dari membeli, mengolah, dan menyantap daging sapi. Meskipun yang utama dalam tradisi Meugang adalah daging sapi, namun ada juga masyarakat yang menambah menu masakannya dengan daging kambing, ayam, juga bebek. Meugang biasanya dilaksanakan selama tiga kali dalam setahun, yaitu dua hari sebelum datangnya bulan puasa, dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, dan dua hari menjelang Idul Adha.
Amir Hamzah (dalam http://www.acehfeature.org), salah seorang tokoh masyarakat Aceh mengatakan, tradisi ini dulunya dikenal dengan nama Makmeugang. Gang dalam bahasa Aceh berarti pasar, di mana di dalamnya terdapat para penjual daging yang digantung di bawah bambu. Pada hari-hari biasa, tak banyak masyarakat umum yang mendatangi pasar itu. Namun, pada hari-hari tertentu, yaitu menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, masyarakat akan ramai mendatangi pasar, sehingga ada istilah Makmu that gang nyan (makmur sekali pasar itu). Maka, jadilah nama Makmeugang.
Hamzah dalam sumber tersebut di atas mengatakan tradisi ini telah muncul bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Aceh, yaitu sekitar abad ke-14 M. Sesuai anjuran agama Islam, datangnya bulan Ramadhan sebaiknya disambut secara meriah, begitu juga dengan dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Jika pada hari-hari biasa masyarakat Aceh terbiasa menikmati makanan dari sungai maupun laut, maka menyambut hari istimewa itu (hari Meugang), masyarakat Aceh merasa daging sapi atau lembulah yang terbaik untuk dihidangkan. Zaman dahulu, pada hari Meugang, para pembesar kerajaan dan orang-orang kaya membagikan daging sapi kepada fakir miskin. Hal ini merupakan salah satu cara memberikan sedekah dan membagi kenikmatan kepada masyarakat dari kalangan yang tidak mampu.
Menurut Ali Hasjmy (1983: 151), dalam masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, hari Meugang dirayakan di Keraton Darud Dunia dengan dihadiri oleh sultan, para menteri dan pembesar kerajaan, serta alim ulama. Hari Meugang ini biasanya jatuh pada tanggal 29 atau 30 Sya‘ban (dua hari atau sehari menjelang bulan Ramadhan). Menjelang upacara tersebut, Syahbandar Seri Rama Setia biasanya akan memberikan hadiah berupa pakaian yang akan dipakai sultan dalam upacara itu. Selain itu, Syahbandar Seri Rama Setia juga akan menyediakan karangan-karangan bunga yang ditempatkan di makam para sultan. Gambaran mengenai kemeriahan tradisi tersebut juga dipaparkan oleh Lombard (2007: 204—205).
Ali Hasjmy juga menjelaskan bahwa pada hari itu, sultan juga memerintahkan kepada Imam Balai Baitul Fakir/Miskin (yaitu lembaga yang bertugas menyantuni kaum dhuafa dan yatim piatu) untuk membagikan daging, pakaian, dan beras kepada fakir miskin, orang lumpuh, dan para janda. Biaya untuk penyantunan fakir miskin pada hari Meugang ini ditanggung oleh Bendahara Balai Silatur Rahim, yaitu lembaga yang berfungsi mengatur hubungan persaudaraan antar-warga negara dan antar-manusia yang berdiam dalam Kerajaan Aceh Darussalam. Hingga kekuasan pemerintah kolonial Hindia Belanda, tradisi Meugang ini tetap dilaksanakan di Aceh. Bahkan Pemerintah Belanda mengambil kebijakan libur kerja pada hari Meugang serta membagi-bagikan daging pada masyarakat (Hasjmy, 1983: 151).
Dalam catatan Snouck Hurgronje (1997: 175), tradisi Meugang sudah sangat melembaga bagi masyarakat Aceh. Tradisi ini bahkan dapat membantu perjuangan para pahlawan Aceh untuk bergerilya, terutama karena telah dikenalnya teknologi sederhana untuk pengawetan makanan, yaitu dengan pemberian cuka, garam, dan bahan-bahan lainnya. Dengan daging awetan itu, para pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan sehingga dapat bertahan untuk melakukan perang gerilya. Dalam tradisi Meugang, pengawetan daging ini tentu saja sangat dibutuhkan. Sebab, pada hari Meugang, di mana hampir seluruh masyarakat bumi rencong melakukan pemotongan daging sapi secara besar-besaran, maka untuk menjaga stok tersebut supaya dapat dikonsumsi dalam beberapa hari kemudian diperlukan upaya pengawetan.
Melembaganya tradisi Meugang dalam masyarakat Aceh dapat dilihat dari jaringan sosial yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan daging pada hari Meugang. Jauh hari sebelum Meugang dilaksanakan, masyarakat gampong (kampung) akan bermusyawarah di meunasah (tempat berkumpulnya orang dewasa untuk melakukan ibadah, musyawarah, maupun menyelesaikan berbagai persoalan sosial-budaya) untuk menentukan ripee, yaitu jumlah pungutan atau iuran warga untuk membeli sapi yang akan dipotong bersama-sama. Gotong royong mengumpulkan uang inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Meuripee. Pada hari Meugang, sapi-sapi hasil iuran bersama akan dipotong dan kemudian dibagi rata.
Dalam perkembangannya, selain pemotongan daging yang diupayakan secara bersama-sama melalui cara Meuripee, masyarakat Aceh juga memperoleh daging sapi dengan jalan membelinya di pasar-pasar. Menjelang pelaksanaan Meugang, masyarakat Aceh akan berbondong-bondong menuju pusat-pusat penjualan daging sapi. Akibat kebutuhan daging yang melonjak tersebut, harga daging sapi biasanya akan naik 4—5 kali lipat dari harga normal. Lapak-lapak baru penjualan daging pun turut menjamur di pinggir jalan maupun di tempat-tempat keramaian lainnya.
Pusat penjualan daging Meugang.
Selain bisa memperoleh daging melalui cara Meuripee dan membeli di pasar, tak jarang instansi-instansi pemerintah maupun swasta juga menyediakan daging sapi untuk para karyawannya. Meugang yang dilakukan oleh berbagai instansi itu biasa disebut dengan Meugang Kantor. Tak hanya kantor pemerintah dan swasta, lembaga-lembaga pendidikan juga kerap kali mengadakan Meugang bersama yang diperuntukkan bagi karyawan sekolah maupun para muridnya.
Pasca-musibah gempa bumi dan tsunami tahun 2004 lalu, masyarakat Aceh tetap melangsungkan perayaan Meugang. Bahkan, menjelang perayaan itu, bantuan dari pemerintah maupun LSM terpusat untuk menyediakan pasokan daging sapi bagi masyarakat tanah rencong.
2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Dalam satu tahun, tradisi Meugang dilaksanakan selama tiga kali, yaitu dua hari sebelum bulan Puasa (disebut Meugang Puasa), menjelang hari raya Idul Fitri (disebut meugang Uroe Raya Puasa), serta menjelang hari raya Idul Adha (Meugang Uroe Raya Haji). Untuk pelaksanaan pemotongan daging Meugang tergantung kesepakatan masyarakat, bisa di tanah-tanah lapang di kampung untuk Meugang Gampong, bisa di sekitar kantor untuk Meugang Kantor, atau bisa juga di sekolah untuk Meugang yang dilaksanakan oleh sekolah (keterangan ini tidak termasuk untuk daging sapi Meugang yang dibeli di pasar). Sementara, untuk proses memasak daging serta menikmatinya biasanya dilaksanakan di rumah masing-masing warga.
3. Pelaksanaan Meugang
A. Cara Memperoleh Daging
Dalam konteks masyarakat Aceh saat ini, untuk memperoleh daging sapi guna merayakan tradisi Meugang dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, antara lain:
1. Meugang Gampong
Pelaksanaan Meugang Gampong diawali dengan musyawarah untuk menentukan besarnya biaya iuran guna membeli sapi (Meuripee). Musyawarah ini biasanya dipimpin oleh Teungku Meunasah, yaitu seorang pimpinan adat setempat. Musyawarah ini dilakukan jauh sebelum hari Meugang tiba, supaya uang yang terkumpul mencukupi untuk dibelikan beberapa ekor sapi. Pada hari pelaksanaannya, beberapa orang pria trampil akan ditugaskan sebagai penjagal dan pemotong sapi. Para pria yang bertugas tersebut akan memperoleh bagian tertentu dari daging sapi yang dipotong, misalnya memperoleh leher, kepala, atau kulitnya.
Usai dipotong, daging sapi akan dibagikan secara merata, termasuk tulang dan jeroan-nya (isi perut sapi, antara lain babat, usus, limpa, dan lain sebagainya) sesuai jumlah kepala keluarga yang terdapat di dalam Gampong. Jadi, setiap tumpuk daging yang akan dibagikan tersebut terdiri dari daging, tulang, dan jeroan sekaligus. Setelah dibagi rata, maka warga Gampong akan memasak dan menikmati daging sapi tersebut bersama keluarga dan kerabat dekatnya di rumah masing-masing.
2. Meugang Kantor
Sebagaimana namanya, Meugang yang satu ini dilaksanakan di kantor atau tempat kerja masing-masing. Oleh karena tradisi ini telah berusia ratusan tahun, maka menyediakan daging sapi pada hari Meugang tidak hanya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Gampong, melainkan juga oleh perusahaan atau kantor-kantor pemerintah. Penyediaan daging sapi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu memotong beberapa ekor sapi untuk para karyawan, atau cukup memberikan tunjangan uang untuk membantu karyawan membeli daging sapi di pasar.
3. Membeli di Pasar
Alternatif lain untuk memperoleh daging sapi adalah dengan cara membelinya di pasar. Tentu saja, cara terakhir ini lebih membutuhkan dana yang cukup besar. Setiap kali hari Meugang, masyarakat Aceh biasanya memerlukan antara 1—10 kg daging sapi untuk keluarganya. Padahal, menjelang hari Meugang, harga daging melonjak beberapa kali lipat dari harga biasa.
B. Memasak dan Mengawetkan Daging
Daging sapi yang diperoleh warga baik dari Meugang Gampong, Meugang Kantor, maupun membeli di pasar biasanya akan dimasak sebagai santapan atau lauk utama. Daging sapi ini ada yang diolah menjadi rendang, gulai, kare, atau disemur. Bau olahan daging dengan bumbu rempah-rempah ini akan memenuhi rumah-rumah warga di Aceh, sehingga orang Aceh menyebutnya Sie Meugang (aroma daging Meugang).
Aneka masakan dalam perayaan Meugang.
Namun, daging-daging tersebut tidak seluruhnya dimasak untuk disantap hari itu juga. Sebagian daging diawetkan untuk dikonsumsi pada hari-hari berikutnya. Proses pengawetan dapat dilakukan dengan jalan dijemur dan ditaburi garam, biasa disebut Sie Tho, yaitu daging serupa dendeng yang memiliki rasa asin. Ada juga yang diolah menjadi daging cuka khas Aceh Besar, yaitu daging sapi yang dipotong berbentuk bonggol-bonggol besar lalu dimasak dengan bumbu yang dilengkapi cuka. Dengan menggunakan campuran cuka yang banyak, maka daging olahan ini dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Jika ingin disantap, maka bonggol daging tersebut dapat diiris-iris seperti dendeng untuk selanjutnya dimasak sesuai selera.
C. Menikmati Meugang
Setelah daging Meugang selesai dimasak, maka anggota keluarga akan berkumpul untuk menyantapnya secara bersama-sama. Tentu saja, hari Meugang ini merupakan hari yang sangat berbahagia karena masakan-masakan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa. Selain acara utama yaitu menikmati berbagai masakan dari daging sapi, masyarakat Aceh biasanya juga menyelinginya dengan memakan sirih (Pajoh Ranup). Tujuannya adalah menghilangkan bau mulut usai menyantap daging, serta mempermudah proses pencernaan makanan.
4. Nilai-nilai di Balik Tradisi Meugang
Perayaan Meugang tidak hanya memiliki makna lahiriah sebagai perayaan menikmati daging sapi, melainkan juga memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh. Mereka yang melaksanakan tradisi Meugang di Aceh memang mengenal sebuah pepatah yang sudah cukup lama hidup dalam kesadaran mereka, yaitu Si thon ta mita, si uroe ta pajoh (Setahun kita mencari rezeki, sehari kita makan). Pepatah ini cukup tepat untuk menggambarkan betapa hari Meugang bagi masyarakat Aceh merupakan hari yang sangat penting, di mana kebahagiaan dapat diwujudkan dengan cara menikmati daging secara bersama-sama. Meski demikian, selain sebagai wujud mensyukuri nikmat rezeki selama setahun itu, pelaksanaan tradisi Meugang juga memiliki beberapa dimensi nilai yang lain, antara lain:
a. Nilai Religius
Pelaksanaan tradisi Meugang memang bermula dari upaya masyarakat Aceh untuk merayakan datangnya bulan puasa dan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi masyarakat muslim pada umumnya, datangnya bulan Ramadhan disambut dengan gegap gempita. Tak terkecuali bagi masyarakat Aceh. Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan yang penuh berkah. Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan. Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Hari Raya Qurban.
Dari ketiga Meugang tersebut, Meugang menyambut datangnya bulan puasa merupakan perayaan Meugang yang paling meriah. Hal ini karena masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang sudah dicari selama 11 bulan penuh harus dinikmati selama bulan Ramadhan sambil beribadah.
b. Nilai Berbagi (Bersedekah)
Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan Meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging Meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari Meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu.
Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan Meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi. Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.
c. Nilai Kerbersamaan
Tradisi Meugang yang meibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan Meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.
Pentingnya tradisi Meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya (baik dengan cara menabung atau bahkan terpaksa harus berhutang), sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.
d. Menghormati Orang Tua
Tradisi yang telah kita diskusikan di atas tak hanya merepresentasikan kebersamaan dalam keluarga, namun juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya. Tak hanya para menantu, pada hari Meugang para santri (murid-murid yang belajar agama) pun biasanya akan mendatangi rumah para guru ngaji dan para teungku untuk mengantarkan masakan dari daging sapi sebagai bentuk penghormatan. Begitu pentingnya nilai penghormatan terhadap orang tua telah mengkondisikan tradisi tersebut tidak mungkin untuk ditinggalkan. Jika ditinggalkan hidup menjadi terasa tidak lengkap dan dan muncul perasaan terkucil.
5. Kesimpulan
Pelaksanaan tradisi Meugang secara jelas telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasi datangnya hari-hari besar Islam. Tradisi ini secara signifikan juga telah mempererat relasi sosial dan kekerabatan di antara warga, sehingga secara faktual masyarakat Aceh pada hari itu disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperoleh daging, memasak, dan menikmatinya secara bersama-sama. Selain dampak penguatan ikatan sosial warga di tingkatan gampong dan tempat kerja (kantor), nampak pula dampak signifikan dari tradisi ini di ranah pasar, yaitu aktivitas jual-beli daging yang meningkat tajam.
(Lukman Solihin/bdy/01/02-09)
Daftar Pustaka:

RAKYAT Aceh mungkin tak akan pernah lupa dengan pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan "Jakarta". Pengkhianatan lebih dari 30 tahun. Pengkhianatan yang menorehkan bekas luka yang sulit sembuh. Bernanah. Berdarah. Dan menyisakan trauma berkepanjangan.

Sejarah mencatat-namun sering dilupakan-tentang Presiden RI Soekarno yang menangis menghiba-hiba, meminta rakyat Aceh agar membantu perjuangan Republik melawan imperial Belanda. Tapi ketika Gubernur Aceh Daud Bereueh meminta Soekarno membuat pernyataan tertulis seandainya Indonesia merdeka akan dilaksanakannya Syariat Islam di Aceh, dengan manis Soekarno berkata: "Kanda, tiada percayakah Kanda akan niat tulus Adinda?"

Daud Bereueh terenyuh. Soekarno menang. Republik mendapat bantuan berkilo-kilo emas murni sumbangan rakyat Aceh untuk menyokong perjuangan Republik. Dua pesawat udara (Seulawah Agam dan Seulawah Inong) dibeli. Akhirnya Republik merdeka. Namanya Indonesia Raya.

Namun di lain kesempatan, di hadapan ribuan pendukungnya di Sulawesi, Soekarno pidato berapi-api, "Tak ada Syariat Islam di Indonesia!"  Dek! Rakyat Aceh tersentak. Daud Bereueh berang dengan pernyataan Soekarno yang telah meludahi wajahnya. Daud Bereueh dengan pendukungnya pun berontak. Namanya DI/TII. Pemberontakan gerilya berpuluh-puluh tahun. Menelan ribuan korban jiwa rakyat Aceh. 

Soekarno mangkat, Jenderal Soeharto naik tahta. Ternyata, tak juga perubahan dirasakan rakyat Aceh. Penderitaan semakin berat. Luka semakin tersayat-sayat. Mengiris-mengiris bagai sembilu di dada rakyat Aceh.

Soeharto memang sukses menumpas DI/TII. Tapi Soeharto tak pernah bermimpi bisa melumpuhkan perjuangan gerakan pemberontak baru di Aceh yang menamakan diri mereka GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Pentolan- pentolan GAM seperti Hasan Tiro (cucu pahlawan Teuku Tjik Di Tiro- pen) meminta restu pada Daud Bereueh untuk meneruskan perjuangan DII/TII yang telah mengarah pada upaya mewujudkan Negara Islam Aceh Merdeka.

Soeharto tak hilang akal, DOM (Daerah Operasi Militer) Jilid I dan DOM Jilid II pun digelar. Puluhan ribu tentara dikirim ke Aceh. Dari berbagai satuan dan bermacam nama operasi. Yang terkenal adalah Operasi Jaring Merah yang disinyalir telah melakukan pembantaian besar-besaran di Aceh.

Bukti pembantaian itu, seperti dilaporkan Komnas HAM dan Kontras, hampir di setiap tempat bumi Aceh ditemui kuburan massal. Korban penculikan, penembakan, pemerkosaan dan penyiksaan.

Di masa Soeharto ini pula, kekayaan Aceh dikeruk habis-habisan untuk memakmurkan Jakarta. Gas Elpiji Arun, Pabrik Pupuk Asean, Pabrik Pupuk Iskandar Muda, Exon Mobil, Pabrik Kertas Kraf di Aceh Utara, Tambang Emas di Aceh Barat, Pabrik Semen di Aceh Besar, perkebunan di Aceh Tengah adalah barang tambang sah milik rakyat Aceh yang tak pernah dinikmati. Aceh yang kaya, tapi rakyatnya miskin. Pekerja- pekerja perusahaan tambang itu didatangkan dari Jawa, sementara pemuda-pemuda Aceh dicurigai terlibat sebagai Gerakan Seperatis Aceh (GSA) dan diburu sampai ke hutan-hutan.

Bukti lainnya di masa DOM, tepatnya di Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie, tersebutlah sebuah kampung yang bernama Kampung Janda. Dinamakan Kampung Janda karena di kampung ini hanya dihuni kaum janda yang telah ditinggal pergi oleh suami mereka, baik karena diculik, hilang, ataupun dibunuh. Masa itu berlangsung sejak 1991- 1996. Ya, nyaris kosong laki-laki. Hanya ada 9 laki-laki tua dan anak- anak yatim yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Reformasi bergulir, Soeharto lengser ke prabon. Lalu muncullah presiden Indonesia baru, bertubuh kecil tapi berotak jenius. Namanya BJ. Habibie, sang pembuat pesawat terbang. Pemuja HiTech. 

Habibie yang cerdas diharapkan bisa memberi pencerahan bagi kesejahteraan rakyat Aceh. Benar, Habibie pun mengeluarkan 9 janji, diantaranya membuka Pelabuhan Sabang menjadi pelabuhan bebas, membuat jalan rel kereta api di Aceh, dan mempekerjakan kembali pemuda-pemuda Aceh pada perusahaan-perusahaan provit di Aceh.

Tapi janji Habibie sekedar janji. Sabang masih tetap sepi. Malah Batam yang dulunya gersang sekarang dikembangkan. Begitupun dengan pembuatan rel kereta api yang menghubungkan Aceh dan Sumatra Utara, sampai sekarang tak pernah rampung. Bahkan, saking lamanya menunggu, beberapa warga Aceh malah mempreteli rel-rel besi itu kemudian menjualnya ke tukang loak dengan harga kiloan.

"Miseu hana geutanyo publo, ngon pue lom kamoe pajoh bu? (Kalau tidak dijual dengan apa lagi kita makan nasi?)" ujar seorang pemuda dengan logat Aceh yang kental.

Habibie tak lama jadi presiden. Lalu muncullah pemimpin baru. Dia seorang Kyai, namanya Abdurrahman Wahid atau sering disebut oleh pendukungnya Gusdur.

Terpilihnya Gusdur kembali menjadi harapan baru bagi Aceh. Keadaan memang sedikit tenang ketika itu. Tapi ternyata tidak berlangsung lama. Perang masih terus berkecamuk di Aceh. Apalagi ketika Sang Kyai kontroversial ini mengeluarkan statmen bahwa dirinya adalah "Nabi Orang Aceh".

Melihat berbagai pemikiran kontra Gusdur itulah, keadaan kembali semraut. Tak hanya di Aceh, hampir di seluruh wilayah Indonesia, mahasiswa meminta Gusdur agar turun dari jabatannya sebagai presiden.  Peluang itu pun dimanfaatkan oleh orang-orang PDIP, tepatnya kubu Megawati Soekarnoputri yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Presiden. Politik pun kian bermain. Akhirnya Gusdur berhasil dilengserkan dalam Sidang Istimewa (SI). Tapi Gusdur tidak pernah mengakui pelengseran dirinya. Sampai sekarang Gusdur mengaku sebagai Presdien Indonesia. Meski dia harus meninggalkan Istana Negara dengan hanya memakai celana pendek saja.

Mega naik. Dialah satu-satunya perempuan Indonesia pertama yang menjadi presiden republik ini. Khusus untuk Aceh, dengan senyumnya yang khas ia lontarkan sebuah kalimat, "Jika `Cut Nyak' yang memimpin bangsa ini, maka tidak setetes darah pun akan tumpah lagi di Aceh!"  Kalimat Mega itu tetap diingat oleh rakyat Aceh. Tapi lagi-lagi Mega hanya pandai berhias bibir. Ocehannya `lips service'. Lipstik! Di masa kepemimpinannyalah darah paling banyak tumpah di Aceh.


Bukan lagi setetes, tapi sudah menjadi `danau darah' dan air mata yang membanjiri bumi suci Aceh. Dimasanya juga puluhan ribu tentara dikirim ke Aceh, berdalih memburu GAM dan menciptakan keamanan. Tapi bukannya aman, malah bertambah runyam. Itulah Megawati Soekarnoputri, anak perempuan Soekarno. Mega kalah dalam Pemilu 2005. Mantan mentrinya naik menggantikan posisinya.

Nama presiden baru itu Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lagi-lagi ada secercah cahaya baru untuk Aceh. SBY yang kharismatik, bijaksana, dan bertekad mengembalikan Aceh menjadi negeri yang aman.

Namun, belum genap setengah tahun kepemimpinannya, musibah besar melanda Aceh. Gempa bumi dan tsunami. Lebih 120 ribu rakyat Aceh tewas menggenaskan. Dua kekuatan besar di Aceh, TNI dan GAM tersentak. Tuhan murka!

Bencana yang menimpa Aceh itu menjadi musibah nasional Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan. Tapi siapa sangka, gempa dan tsunami menjadi sejarah baru bagi Aceh menuju kedamaian. Bercermin pada musibah itu pula serta melihat penderitaan rakyat Aceh yang berkepanjangan, Senin, 15 Agustus 2005, di Helsinki, Finlandia, dua hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, babak barupun dimulai. GAM dan RI berdamai. Nota Kesepahaman pun ditandatangani. Jutaan rakyat Aceh sujud syukur. Indonesia tersenyum.

Tapi yang pasti, sejarah akan tetap menjadi saksi dan sulit dibohongi. Bahwa di Aceh pernah ada penindasan, pembantaian, pemerkosaan, pembunuhan, dan juga air mata yang belum juga kering ketika mengenangnya kembali.

Harapan rakyat Aceh-yang tampaknya setiap waktu akan terus berharap- damai benar-benar menebar di Aceh. Jangan ada lagi pengkhianatan. Sebab pengkhianatan akan selalu menyisakan dendam yang tak kunjung padam.

Benar kata orang, perbuatan paling sulit adalah memaafkan ketika disakiti. Tapi siapa sangka, sikap memaafkan lebih mulia, karena disanalah letak perbedaan hakiki antara manusia terhormat dengan manusia yang hina.

Kini, paska pedamaian Helsinky, Aceh telah menjalankan Syariat Islam secara kaffah, meski, pelaksanaan Syariat Islam itu selalu mendapat tantangan dari oknum-oknum yang mengaku muslim namun menentang pelaksanaannya.

Semoga, konflik dan musibah tsunami, adalah akhir dari kanak-kanak Aceh bermain asap mesiu dan selonsong peluru, pecahan mortir, darah dan air mata. Semestinyalah alaf baru di tanah Tjoet Njak itu bersinar terang menuju hidup yang damai dan penuh kemuliaan. "Udep Saree Mate Syahid" (Hidup Mulia Mati Syahid)


Mumpung lagi di Tanah kelahiran Bireuen, Owner coba mengulas sedikit tentang wisata kopi di Kota Juang ini. Dan satu hal yang sangat unik bahwa di Negeri Jeumpa ini begitu banyak penamaan istilah Bank (baca : Beng) oleh masyarakat Bireuen terutama di Peusangan dan sekitarnya yang memiliki pengaruh penting dalam denyut perekonomian ureung Bireuen, Berikut Ulasannya.

Ini cerita dulu

Dahulu kala, yang waktunya tak terpastikan, di Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen, terdapat begitu banyak bank (baca; beng), terletak di sudut-sudut gampoeng atau di wilayah perkotaan. Kala itu, setiap gampoeng, pasti memiliki minimal satu beng.

Beng yang dimaksud bukan nama beng yang kita kenal seperti sekarang ini; sebagai tempat simpan pinjam uang. Dahulu, baik warung, kios, toko, atau tempat-tempat jajanan lain dikenal dengan beng.

Disebut beng, karena di tempat itu berlangsung segala macam transaksi, tapi bukan jual beli. Di beng, orang saling bekerjasama sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari, baik kebutuan pokok rumah tangga, dan kebutuhan lainnya, baik skunder maupun tersier. Transaksi itu tidak berbentuk jual beli seperti sekarang ini, melainkan dengan cara barter.

Misalnya, Anda butuh segelas kopi, saya butuh sebambu beras. Saya akan menyedikan segelas kopi, dan Anda memberikan saya sebambu beras. Begitulah perumpamaannya. Dan semua itu berlangsung di beng, salah satunya beng kupi.

Tradisi itu terus berlangsung, hingga kemudian orang mengenal jual beli.

Beng Cureh

Di Bireuen dan sekitarnya, hingga era tahun 1970-an, terdapat beng kupi yang cukup tersohor. Namanya Beng Cureh, terletak di Gelanggang Gampoeng Desa Cureh. Tepatnya di Simpang Cureh, lebih kurang satu kilo meter arah timur Terminal Bus Bireuen sekarang.

Di Simpang Cureh terdapat dua Beng Kupi, keduanya di kenal dengan naman Beng Cureh. Tidak ada yang tahu pasti, yang manakah di antara kedua beng itu yang dimaksud Beng Cureh. Mengenai ini, ada dua versi cerita yang berkembang di masyarakat.

Versi pertama, Beng Cureh yang dimaksud adalah milik warga keturunan Cina. Awalnya Beng Cureh dibangun di atas tanah pinjaman seorang keturunan bangsawan (Ule Balang/Teuku). Kala itu, Beng Cureh ramai dikunjugi pelanggan. Tidak ada papan naman yang menjelaskan bahwa tempat itu bernama Beng Cureh, tapi orang-orang mengenal tempat itu sebagai Beng Cureh.

Setelah bertahun-tahun membuka beng itu, Si Cina pindah ke Jalan Mawar Kota Bireuen. Di sana itu membuka beng kelontong yang diberi nama Serodja.

Si Cina adalah sosok yang murah hati. Meski bukan beragama Islam, ia cukup menghargai tradisi-tradisi Islam di sekitar tempat tinggalnya. Pada waktu hari raya dan hari-hari besar Islam lainnya, Si Cina sering memberikan sumbangan kepada masyarakat sekitar.

Si Cina sekarang sudah meninggal, tapi bekas usaha beng kupi masih ada hingga sekarang. Tempat itu kini dikelola warga setempat, namun gaungnya tidak sepopuler dulu.

Versi kedua. Beng Cureh adalah milik seorang tokoh setempat yang populer dipanggil Nek Bayu. Disebut Nek Bayu karena ia berasal dari salah satu desa di Syamtarilla Bayu, Kota Lhoksemawe. Nama asli Nek Bayu nyaris tidak diketahui oleh orang banyak.

Bersamaan dengan Si Cina, Nek Bayu juga membuka usaha warung kopi yang letaknya tidak jauh dari warung Cina itu. Beng kupi milik Nek Bayu juga dikenal sebagai Beng Cureh.

Sejauh ini, tidak ada catatan pasti tentang yang manakan yang dimaksud Beng Cureh. Beng milik Si Cina kah? Atau beng milik Nek Bayu? Terlepas dari semua, nama Beng Cureh menjadi salah satu cerita legenda warung di Kabupaten Bireuen.

Entah bagaimana kisahnya, pada masa sekarang, kata Beng Cureh sering digunakan oleh masyarakat untuk menggambarkan karakter ketidakjujuran. Misalnya, seorang pedagang, baik kelas kakap maupun kelas rendah, memberi pinjaman uangnya atau benda lain kepada rekan bisnisnya. Bila si yang meminjam tak mampu membayar, dan berniat untuk tidak mengembalikan lagi hutang tersebut, ia akan akan mengatakan, ”utang kah kacok Bak Beng Cureh.” Bila kalimat itu sudah diucapkan oleh orang yang meminjam uang, maka jangan harap utang Anda akan terbayar.

Dengat kata lain, Beng Cureh adalah sebuah tempat yang tidak jelas keberadaannya, namun nama itu hidup dalam masyarakat.

Beng Mee

Jika di Simpang Cureh terkenal dengan Beng Cureh, di Kota Bireuen dan sekitarnya, ada juga nama beng lain yang tak kalah populer, yaitu Beng Mee, terletak di salah satu desa di Kecamatan Kutablang, sekitar 25 km arah timur Kota Bireuen.

Tidak ada cerita yang jelas mengenai Beng Mee. Namun yang pasti, nama Beng Mee cukup dikenal di Kota Bireuen.

Pada masa sekarang, Beng Mee memang tidak lagi sepopuler Beng Cureh. Mungkin karena letaknya yang agak ke wilayah pedalaman. Tak ada sebutan-sebutan sinis terhadap Beng Mee. Hal ini mungkin karena Beng Mee berada pada kondisi masyarakat yang terdiri dari petani, dan pekerja-pekerja kecil lainnya.

Menurut cerita, selain sebagai warung, pada masa keberadaaanya, Beng Mee juga sering digunakan sebagai rapat-rapat desa.

Beng Siri

Warung yang populer disebut Beng Siri ini juga tidak jelas sejarah kelahirannya. Siapa pemiliknya juga tak jelas. Namun Beng Siri populer pada masa konflik Aceh. Sampai sekarang Beng Siri masih esksis.

Anda ingin tahu, silahkan kunjungi lokasinya di sekitar 2,5 km arah terminal Bireueun, tepatnya 100 meter sebelum Markas Dandim Bireuen. Pada sebuah persimpangan yang ramai dengan warung kopi, pasar ikan darurat, dan berbagai toko-toko lainnya.

Pada masa konflik, lokasi ini sangat rawan. Sering terjadi kontak tembak, dan culik menculik. Seluruh masyarakat Bireuen pasti tahu bagaimana cerita suram di wilayah ini.

Sekarang, nama Beng Siri sering dikarakterkan sebagai sifat yang keras. Jika seseorang tidak mampu membayar hutang, dan bersikeras untuk tidak membayar, maka ia akan menyebut, ”utang kah kacok bak Beng Siri.” Kalimat bisa berarti tantangan untuk adu fisik, atau bahkan ancaman pembunuhan.

Mungkin saja karakter yang demikian tercipta karena Beng Siri lahir dan populer pada masa konflik.

BANK 47

Bank (dibaca beng) 47 adalah lawan dari Bank BNI 46. Beng 47 disebutkan untuk menunjuk praktek yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang meminjamkan uang dengan bunga berlipat ganda. ”Pegawai” Beng 47 membuka praktek 24 jam. Kapan saja Anda membutuhkan pinjaman uang, Bank 47 siap melayani.

Satu sisi, keberadaan Beng 47 patut disyukuri, tapi di sisi lain, bunga yang tinggi cukup memberatkan para peminjam. Dalam hal sejarah beng di Bireuen, kita tidak perlu terlalu jauh membicarakan Beng 47.

Terlepas dari Beng 47. Ketiga beng yang disebutkan sebelumnya adalah nama yang paling populer dari ratusan beng yang pernah ada di Bireuen. Masing-masing beng dikarakterkan sedimikian rupa.

Ini cerita sekarang.

BENGKUPI yang baru-baru ini diresmikan oleh Bupati Bireuen, Nurdin Abdurrahman, tepatnya tanggal 7 Juni 2010, memiliki benang merah dengan tiga beng pada cerita sebelumnya, Beng Cureh, Beng Mee, dan Beng Siri. Tidak termasuk Beng 47!

Bengkupi dibangun oleh puluhan penggagas dan pemilik modal. Karakternya tercipta atas merger dari tiga beng yang terkenal di Kota Bireuen. Setelah Bengkupi tidak akan ada lagi beng-beng lain di Kota Bireuen.

Para penikmat kopi dan pemodal di Bengkupi berasal dari karakter yang beragam. Ada karakter dari Beng Cureh, sifatnya keras dan licin. Ada karakter Beng Siri, yang arogan. Kemudian karakter Beng Mee yang bijaksana.

Tidak ada karakter Beng 47 di Bengkupi.

Suatu hal yang menarik, meski berasal dari tiga karakter yang berbeda, kontruksi Bengkupi dibangun dengan gaya arsitektur kontemporer, nyaman dan indah. Bengkupi adalah tempat memecahkan kebuntuan, baik masalah bisnis dan masalah lainnya.

Ke depan, diharapkan, Bengkupi bisa mewakili nuansa Aceh untuk seluruh dunia.

Bengkupi dibangun atas usaha patungan, ratusan juta. Para pemodalnya mencapai 60 orang, berasal dari berbagai latar belakang. Politisi, pengusaha, para makelar dan agen, petani, birokrat (PNS), militer, nelayan, hingga aktivis.

Bengkupi akan dikembangkan di kota-kota besar dalam dan luar negeri dengan sistem franchise, dengan menu andalan kopi asli gayo. Selain kopi juga akan dikembangkan makanan khas Aceh, mie Aceh, kanji rumbi, emping breuh, timphan, lincah mameh (rujak manis), dan berbagai jenis masakan lainnya.

Dalam waktu dekat ini, Bengkupi akan hadir di Kota Medan, dan Jakarta.

Tak lengkap rasanya, jika Anda berkunjung ke Aceh tanpa singgah di Bengkupi, di Jalan Medan-Banda Aceh, Kota Juang Bireuen.[]

Ref : SeputarAceh.com

Dengarkan Aceh ! 
ACEH adalah problem yang tumbuh dari sejarah kesalahpahaman. Kesalahpahaman pokok adalah tentang Indonesia itu sendiri. Indonesia, yang dinyanyikan dengan khidmat oleh jutaan anak-anak, sebenarnya bukanlah sebuah wujud yang datang sejak penciptaan alam semesta. Indonesia adalah sebuah proyek baru yang belum bisa dianggap selesai. 

Dalam sejarah, Aceh dikenal sebagai wilayah yang-paling tidak menurut para pemimpin yang ada di sana tahun 1940-an itu-memilih jadi bagian republik baru yang berdiri tahun 1945 itu, Indonesia. Kata kunci di situ adalah "memilih". Dengan kata lain, dengan kemauan. Dari sini tampak bahwa Indonesia adalah sesuatu yang dibangun karena kemauan orang banyak, di antaranya orang Aceh. Proyek ini dimulai tahun 1928. Ia diberi bentuk yang lebih kukuh sejak 1945. Tapi kemauan yang mendorong proyek itu bukanlah sesuatu yang abstrak. 

Kemauan itu milik sebuah kalangan, sebuah generasi, yang terikat waktu, yang mungkin terpaut dengan latar belakang sosial atau kepentingan sendiri. Karena datang dari manusia yang konkret, kemauan itu bisa berubah. Mereka yang punya mau jadi "Indonesia" tahun 1945 mungkin saja tak selamanya berada dalam posisi yang sama. Bisa jadi generasi lama hilang dan generasi baru tak sepaham. Sangat mungkin pula bahwa para pelaku yang dulu bersama-sama orang Aceh dan lain-lain membangun proyek "Indonesia" itu kemudian berganti memilih variasi kesepakatan. 

Bahwa Aceh kemudian memunculkan gerakan perlawanan terhadap "Pusat", di antaranya Gerakan Aceh Merdeka, hal itu menunjukkan bahwa ada yang kemudian telantar dalam proyek bersama itu. Ada tendensi untuk menganggap bahwa "Indonesia" sesuatu yang sudah beres hanya karena sebagai ide ia sudah final. Memang ada pelbagai adaptasi yang sudah dilakukan. Tahun 1959, misalnya, Aceh jadi daerah istimewa. Tapi hampir tak ada usaha untuk merundingkan kembali, setiap kali, arrangement yang sudah terbentuk. Sedikit sekali kemauan untuk menengok kembali sejauh mana "proyek menjadi-Indonesia" itu bisa tetap atau harus direvisi, terutama di Aceh. Simbol "Jawa" dan Soeharto Ini terutama terasa di bawah Orde Baru. 

Gerakan bersenjata di Aceh sudah meletup sejak sebelum 1966. Namun yang membuat keadaan tambah parah adalah sifat birokratik-otoriter dari sistem yang dibangun setelah itu. Sistem itu melihat negara kesatuan yang ada ibarat sebuah rumah yang denahnya pasti dan tinggal pakai. Orde Baru tak punya ideolog atau juru bicara yang menggugah-seperti Bung Karno-untuk membuat bangunan yang belum rampung itu menjadi suatu cita-cita yang bergelora. Sebagai gantinya, Orde Baru punya mesin pemerintahan yang bisa menjangkau ke mana-mana. Maka, ketika simbol yang dibawakan Soeharto hampir sepenuhnya simbol "Jawa" (tentu saja "Jawa" sebagaimana ia rumuskan), mereka yang bukan-Jawa mendapatkan diri mereka dalam suasana asing. 

Dan ini berjalan terus terutama dengan kian terpusatnya kekuasaan negara dalam person Soeharto. Apalagi suara lain dari bawah tidak terdengar. Refleks militer Dalam keadaan bisu itu, pekik protes yang sedikit nyaring pun sudah dianggap ancaman gawat. Semua tahu, Aceh dirundung perasaan tertinggal secara ekonomi, juga setelah sejak 1971 Mobil Oil menemukan lapangan gas alam di Arun. Tatkala pers dan media lain ditekan, dan DPRD hanya alat pemerintah daerah, soal ini tertutup. 

Ketika akhirnya bulan Mei 1989 frustrasi meledak-antara lain 8.000 orang melabrak sebuah pertunjukan sirkus di Lhokseumawe-Pusat pun terkejut. Dan yang digunakan adalah refleks militer, bukan kebijakan politik: Mei tahun 1989 itu, daerah operasi militer (DOM) pun berlaku. DOM memang bisa menaikkan uang operasi dan ketergantungan Mobil Oil, misalnya, pada proteksi ABRI. Tapi juga represi. Di banyak tempat rakyat Aceh melihat keangkuhan dan kekejaman prajurit ABRI, dan tak ada cara mengoreksi hal itu. Tentara praktis tak kenal hukum lagi. Tak ada organisasi politik di desa, tak ada sarana untuk menyatakan pendapat dan mengoreksi keadaan. Baru setelah Soeharto jatuh dan suara bebas terdengar, DOM dicabut-dan kisah kebrutalan selama inilah yang terbongkar. 

Kini tinggal dilihat, terlambat atau belumkah keadaan. Kebencian sudah menjalar, dengan atau tanpa hasutan. Presiden dan Panglima ABRI memang sudah minta maaf. Tapi itu tak dianggap cukup lagi, apalagi tindak-lanjutnya tak ada.. Jakarta belum mengurus keluarga korban yang sekitar 2.000 itu, menghukum sejumlah pelaku kekejaman, dan meneguhkan hak otonomi Aceh. Mungkin bahkan suatu pengaturan baru harus dilakukan. Mungkin namanya bukan federasi, tetapi yang pasti bukan seperti sistem yang sekarang dikeramatkan: negara kesatuan. Singkatnya, memberi isyarat perbaikan yang meyakinkan. Kalau tidak, proyek yang bernama "Indonesia" itu harus di tinjau dan direhab kembali.

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh