TRENDING TOPIC #PARIS ATTACK #USA vs RUSSIA #MOST VIDEO
Follow

atjehcyber thumbkanan

rental mobil di aceh, rental mobil aceh, jasa rental mobil aceh, sewa mobil di aceh, rental mobil banda aceh, sewa mobil di banda aceh

atjehcyber stick

Bermula dari Pembunuhan 10 Ulama Muslim Rohingya

Wednesday, June 03, 2015 22:09 WIB

Dibaca:   kali

atjehcyber, atjeh cyber, atjeh news, atjeh media, atjeh online, atjeh warrior, acehcyber, aceh cyber, aceh warrior, aceh cyber online, atjeh cyber warrior

Mereka datang dari Yangon ke Arakan bukan untuk keperluan duniawi, tapi berceramah. Mereka adalah ulama, yang mengabdikan diri untuk dakwah dan mengajak seluruh Muslim ke jalan kebaikan.

Saat itu 3 Juni 2012. Mereka melakukan perjalanan melalui Tangup, untuk sampai ke Arakan. Tiba-tiba bus mereka dihentikan sekelompok orang biadab.

Massa pemeluk agama mayoritas mengeluarkan seluruh penumpang bus. Sepuluh ulama itu tak punya kesempatan lari atau melawan. Hanya dalam beberapa menit, isi kepala mereka berceceran dan darah membasahi permukaan jalan.

Didukung media mainstream dan aparat, massa mengatakan sepuluh orang itu dibunuh karena memperkosa seorang gadis Budhis bernama Thida Htwe.

Burma Times menulis tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Thida Htwe, atau nama itu hanya fiktif. Yang pasti, sepuluh ulama itu dibunuh karena kebencian.

Hampir seluruh media melaporkan pria Muslim berada di balik kejahatan. Media menggerakan aksi pembunuhan yang lebih besar.

Lima hari kemudian, tepatnya 8 Juni 2012, massa Rakhine Buddhis menyerang desa-desa Muslim Rohingya. Tidak ingin mati sia-sia, Muslim Rohingya melawan, korban berjatuhan di kedua pihak.

Hari berikutnya, massa Rakhine Buddhis yang kalap menyerbu desa-desa Muslim Rohingya. Massa mengosongkan permukiman Muslim Rohingya di tengah kota.

Pada 11 Juni 2012, Presiden Thein Sein mengumumkan keadaan darurat. Keesokan hari, pembantian tidak lagi dilakukan massa Rakhine Buddhis tapi tentara dan polisi, dengan jumlah korban mencapai ratusan.



Hari-hari berikutnya adalah penggiringan Muslim Rohingya ke Aung Mingalar, sebuah kawasan permukiman mirip ghetto ciptakan Hitler di Eropa. Lainnya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh-Myanmar, dan ditampung di kamp-kamp pengungsi mirip kandang babi.

Tidak ada lagi Muslim Rohingya berjalan-jalan di Sittwe, Akyab, dan kota-kota lainnya di Rakhine. Tidak ada lagi masjid-masjid, mushola-mushola, serta anak-anak berlarian dari dan ke madrasah.

Azan lenyap dari Arakan. Suara muazin tertahan dinding bambu mushola kecil di Aung Mingalar, dan ghetto Muslim Rohingya lainnya. Masih ada para tetua menulaikan shalat, dan wanita berjilbab, tapi anak-anak kehilangan madrasah dan Juz Amma.
KOMENTAR
DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Artikel Pilihan Pembaca :

mobile=show

Copyright © 2015 ATJEHCYBER — All Rights Reserved