atjeh cyber
Join Us:

ATJEH CYBER WARRIOR™

aceh atjeh cyber acheh | catmenu

Join Us:
Follow Us:

aceh atjeh cyber acheh | Home slides

aceh atjeh cyber acheh | home 300x250

aceh atjeh cyber acheh | Home Photo

aceh atjeh cyber acheh | carousel

aceh atjeh cyber acheh | #tag

aceh atjeh cyber acheh | 970x90

Para pria menggunakan tali tambang untuk mencoba menarik dan meluruskan sebuah truk suplai berisi jerami gandum, digunakan sebagai pakan ternak, di sebuah jalan di Dargai, wilayah barat laut ibu kota Pakistan, Islamabad.

Beberapa buruh Bangladesh menarik sebuah gerobak berisi peti bekas ke sebuah pasar di Dhaka.

Seorang pemungut sampah daur ulang berdiri di depan sepeda roda tiga miliknya yang kelebihan muatan di sebuah jalan utama di Beijing tengah, Tiongkok.

Sebuah kereta api yang kelebihan muatan meninggalkan stasiun kereta api Airport di Dhaka menjelang hari raya Idul Adha.

Para pekerja dari sebuah perusahaan Korea Selatan menurunkan produk-produk dari sebuah mobil.

Para penduduk menaiki sebuah truk pick-up yang menyuplai susu dan barang lain di ibu kota Somalia, Mogadishu.

Sebuah truk yang kelebihan muatan berada di tengah kemacetan di Kairo, Mesir.

Seorang pria Tionghoa menarik sebuah gerobak sepeda yang memuat beberapa karung wadah plastik yang bisa didaur ulang di Shanghai. Pria itu menjual plastik tersebut dengan harga 0,08 yuan (sekitar Rp147,1) per kilogram ke sebuah depot di sekitarnya.

Petani Tiongkok mengangkut hasil panen di sebuah desa di provinsi Shaanxi.

Orang-orang bepergian dengan menaiki sebuah bajaj di sebuah jalan di distrik Rae Bareli di negara bagian Uttar Pradesh di India utara.

Seorang pria mengendarai sebuah motor sambil membawa enam anak saat pulang ke rumah dari sekolah di Greater Noida di negara bagian Uttar Pradesh di India utara.

Para pria mencoba melepaskan gerobak yang kelebihan muatan dari seekor kuda yang jatuh di sebuah jalan di Lahore, Pakistan.

Seorang pria mengangkut sekumpulan bebek dengan mengendarai sebuah sepeda motor ke sebuah pasar di provinsi Nam Ha, di luar Hanoi, Tiongkok.

Orang-orang berjalan melewati badan sebuah pesawat Boeing 737 yang diparkir di sebuah jalan di Mumbai, India.

Sebuah keluarga asal Palestina jatuh dari sebuah gerobak keledai setelah mereka melanggar dinding perbatasan antara Jalur Gaza dengan Mesir


Para pria menggunakan tali tambang untuk mencoba menarik dan meluruskan sebuah truk suplai berisi jerami gandum, digunakan sebagai pakan ternak, di sebuah jalan di Dargai, wilayah barat laut ibu kota Pakistan, Islamabad.

Ukuran tubuhnya bak 'raksasa' tidak seperti hewan lain pada umumnya...

BEBERAPA hewan terkadang terlahir tidak normal, yang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar. Ukuran tubuhnya tidak seperti hewan lain pada umumnya. Seperti diberitakan Mirror, Rabu (16/4/2014), berikut hewan-hewan raksasa yang ditemukan di seluruh dunia.

1. Tikus raksasa di Liverpool


Wabah tikus raksasa beberapa waktu lalu pernah meneror warga Inggris. Tikus-tikus berukuran besar ini muncul di kota-kota seperti Liverpool, Salisbury, dan Birmingham.

Meski telah dibasmi dengan racun tikus, tampaknya tikus yang memiliki panjang hampir dua meter ini tahan terhadap racun. Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab tubuh tikus di Inggris menjadi sangat besar.

2. Lebah raksasa Asia


Pada September tahun lalu muncul kawanan lebah pembunuh yang membawa wabah bagi masyarakat pedesaan di China. Puluhan orang tewas di kota Ankang, China, setelah ribuan lebah yang berukuran raksasa menyerang kawasan padat penduduk tersebut.

Lebah Asia raksasa ini dapat tumbuh hingga sepanjang 5 cm dan sengatannya sangat beracun sehingga dapat menyebabkan syok anafilaksis dan gagal ginjal. Hal inilah yang menyebabkan setidaknya 47 orang meninggal akibat serangan lebah raksasa ini pada 2013 silam.

3. Jangkrik raksasa di New Zealand


Jangkrik raksasa ditemukan pada 2011 silam di Barrier Island, Selandia Baru. Serangga berbentuk sangat besar dari jangkrik biasanya ini ditemukan oleh seorang mantan tukang kebun, Mark Moffett. Dia sering memberinya makan wortel sebelum membiarkan serangga itu pergi.

4. Lipan raksasa di London


Seekor lipan berukuran 25 cm telah ditemukan di sebuah rumah di London Utara pada 2005 silam. Hewan yang memiliki nama latin Viridicornis Scolopendra ini dapat tumbuh hingga 45,7cm.

Hewan arthropoda ini memiliki racun yang sangat mematikan. Selain racun seekor lipan dapat berakibat fatal bagi manusia, racun itu juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit, seperti sakit kepala dan bahkan penyakit kanker.

5. Cumi-Cumi raksasa di Spanyol


Cumi-cumi raksasa terdampar di Spanyol pada Oktober 2013. Hewan laut bertentakel ini memiliki panjang 9 meter (m) dan berat hampir 180 kilogram (kg). Seperti diketahui, spesies cumi-cumi yang ditemukan ini berjenis Architeuthis Dux.

6. Serangga Tongkat


Serangga unik yang biasa disebut serangga tongkat ini memiliki bentuk seperti ranting pohon. Hewan bernama latin Phobaeticus Kirbyi ini pernah ditemukan di Kalimantan, Indonesia. Serangga tongkat raksasa ini memiliki panjang 33 cm, tapi tangan dan kaki yang membentang ke samping memiliki panjang lebih dari 55 cm.

7. Lalat raksasa di Inggris


Seekor lalat raksasa sepanjang 3 cm ditemukan di suatu tempat di West Hamshire, Inggris. Lalat raksasa ini dapat melukai manusia dengan cara menggigit dan memotong kulit manusia. Membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan bekas gigitan lalat raksasa tersebut.


Hari ini, 16 April 2014, pasukan elite TNI AD, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merayakan hari jadinya yang ke-62. Pasukan korps baret merah ini menggelar syukuran di Gedung Balai Komando, Markas Besar Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.

Banyak kisah menarik sepanjang perjalanan pasukan elite Indonesia ini yang luput dari publikasi media.

Media Okezone (16/04) memuat, beberapa pengalaman unik maupun operasi militer korps baret merah tersebut. Sebagai seorang prajurit komando, anggota Kopassus dibekali berbagai keahlian. Di antaranya kemampuan intelijen yang mumpuni.

Satuan intelijen Kopassus atau Sandha Kopassus saat pencabutan status daerah operasi militer (DOM) pada akhir tahun 1998, berhasil masuk berulangkali ke lingkaran kekuasaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Salah satu anggota intelijen Kopassus yang berhasil memasuki kekuasaan GAM bahkan menjadi orang kepercayaan Muzakir Manaf ialah Sersan Badri (nama samaran), anggota Sandi Yudha Kopassus.

"Saya pernah menyamar jadi tukang durian yang mengirim dagangan dari Medan ke Lhokseumawe. Saya pernah ditempeleng aparat saat melewati pos penjagaan karena diminta jatah durian," kata Sersan Badri seperti dikutip Okezone dalam buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan EA Natanegara.

Saat itu kata Badri, untuk menyusup ke sarang GAM sangatlah sulit. Ia pun memutuskan menyamar menjadi seorang pedagang buah Aceh di perantauan. Pekerjaan itu lah yang kemudian mengantarkanya masuk sarang GAM.

Badri dan rekan-rekannya juga harus mengecoh patroli TNI agar tidak bisa menyergap GAM dengan memberi bocoran tentang gerakan TNI supaya GAM bisa menghindar. Penyamaran yang dilakukan Badri begitu tertutup, hanya unsur pimpinan yang mengetahuinya.

Kopassus Temukan Sumber Keuangan GAM

Berulang kali Badri diuji kesetiaannya oleh petinggi GAM dengan memintanya menyembunyikan sanak keluarga mereka. Selama tiga bulan lebih ia diuji kesetiaanya oleh petinggi GAM.

Kepercayaan yang akhirnya timbul tidak disia-siakan Badri. Dalam suatu kesempatan, tim intelijen Kopassus berhasil menemukan bongkar muat sebanyak 125 pucuk senapan milik GAM yang berhasil diselundupkan dari Thailand dan Malaysia.

Pasukan Kopassus juga berhasil menemukan sumber keuangan GAM. Salah satunya adalah perdagangan ganja kering yang berasal dari Aceh Timur dan Aceh Utara. Ganja tersebut dikirim melalui laut dengan kapal-kapal kecil ke Malaysia.

Selain perdagangan ganja, sumber keuangan GAM berasal dari perusahaan besar yang beroperasi di negeri Tanah Rencong dan warga setempat. Mereka diwajibkan memberi dana perjuangan GAM mulai dari hewan ternak, sawah dan kebun tak luput yang disebut dengan pajak Nanggroe. (*okezone)


Operasi militer besar-besaran yang diluncurkan Pemerintah Ukraina di wilayah timur negara itu, untuk menindak keras para demonstran anti-pemerintah telah memakan belasan korban.

Presiden Rusia, Vladimir Putin menyerukan negara-negara di dunia mengutuk Kiev, atas operasi militer yang membuat negara itu diambang perang saudara.

Kekhawatiran pecahnya perang saudara itu disampaikan Putin saat berbicara dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, melalui telepon. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam kebijakan operasi militer besar-besaran dengan nama operasi anti-teroris untuk membungkam demonstran yang menuntut hak-haknya.

“(Operasi militer) anti-konstitusional dilakukan di Ukraina tenggara, yang kami percaya dapat menyebabkan bencana,” bunyi pernyataan kementerian itu.

”Kami sangat prihatin atas operasi militer yang diluncurkan oleh pasukan khusus Ukraina dengan dukungan tentara. Sudah ada korban,” lanjut kementerian tersebut tengah malam tadi (15/4/2014), seperti dilansir Rusia Today.

Menurut Kremlin, operasi militer besar-besaran oleh Pemerintah Ukraina tak ubahnya sebagai pelanggaran hukum, karena melawan rakyatnya sendiri.

”Peristiwa terkini menunjukkan keengganan terus-menerus dari pihak berwenang Kiev untuk berdialog dengan rakyat wilayah Ukraina yang menuntut hak,” imbuh pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sedangkan Jerman belum mengambil sikap meski mengakui ada perbedaan penafsiran dengan Rusia tentang apa yang terjadi di Ukraina timur.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslav Sikorskii, justru mendukung Ukraina untuk meluncurkan operasi militer besar-besaran. Pihak Warsawa setuju percaya tindakan itu tepat untuk menindak orang-orang bersenjata yang menduduki bandara. (*russiaToday)


Departemen Kepolisian New York (NYPD) telah berhenti memata-matai Muslim di kota tersebut. Unit intelijen untuk memata-matai umat Islam yang dilakukan sejak peristiwa 9/11 kini menganggur.

Diberitakan The New York Times, Selasa 15 April 2014, skuad mata-mata umat Islam atau dikenal dengan Unit Demografi yang kemudian diubah namanya menjadi Unit Zona Penilaian mulai terbengkalai sejak William J Baton menjabat sebagai komisaris NYPD Januari lalu. Para detektif di unit ini akan dipindah-tugaskan ke unit lain.

Unit ini rencananya akan segera ditutup. Keputusan ini diambil setelah pemerintah pusat menyatakan akan meninjau ulang kebijakan mereka paska serangan teroris 11 September 2001 di New York.

Unit Demografi awalnya dibentuk untuk mengidentifikasi lokasi rawan tempat para teroris kemungkinan bercampur baur dengan masyarakat. Detektif berpakaian preman biasanya diturunkan ke tempat-tempat yang ditengarai sebagai titik radikalisasi. Tujuannya untuk memberikan peringatan dini bagi polisi tentang rencana terorisme. Ada puluhan detektif di unit ini yang melakukan 28 jenis pekerjaan.

Biasanya polisi yang menyamar akan mengorek informasi dari karyawan yang bekerja di perusahaan milik seorang Muslim. Selain itu, polisi di unit ini diberi doktrin bahwa setiap tempat di masjid bisa jadi "sarang teroris".

Itulah sebabnya, masjid jadi sasaran utama mereka. Para detektif mencatat plat nomor pengunjung masjid, mencatat nama para jemaah dan merekam khutbah dengan alat perekam tersembunyi.

Dengan pemetaan dan foto, polisi bisa tahu persis kegiatan umat Muslim New York, seperti di mana warga Albania biasa main catur, warga Mesir biasa menonton bola atau warga Asia Selatan biasa main kriket.

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan informasi, ternyata praktik ini tidak berguna. Aksi intelijen terhadap umat Muslim New York ternyata tidak memberikan informasi apapun tentang aksi terorisme di masa mendatang. Terbukti tidak ada umat Muslim di New York yang teroris.

Selain itu, unit ini juga menuai kecaman dari umat Muslim. Setidaknya tiga gugatan telah diajukan untuk NYPD. Bulan lalu, salah satu gugatan ditolak hakim karena unit ini tidak terbukti melukai umat Muslim. Namun dua gugatan lagi masih terus digodok.

"Unit Demografi menciptakan beban psikologis di komunitas kami. Dokumen mereka menunjukkan di mana kami tinggal, cafe tempat kami makan, tempat kami beribadah, tempat saya belanja. Mereka bisa melihat semuanya dalam dokumen. Dan ini merusak komunitas secara psikologis," kata Linda Sarsour dari Asosiasi Arab Amerika New York. (*newyorktimes/viva)


Campur tangan asing dan masuknya isu SARA atau sektarian dalam politik Pemilu 2014, secara khusus pada pencalonan Joko Widodo selaku Presiden RI, nampaknya sedang marak.

Isu SARA (suku, agama, ras, antargolongan) dalam pencapresan Joko Widodo, menjadi sesuatu yang ril. Bukan sekadar sebuah rumor apalagi humor politik. Hanya saja isu sensitif yang menjadi sorotan itu, bukan lagi terletak pada latar belakang dan keturunan keluarga Joko Widodo. Melainkan lebih pada indentifikasi orang-orang yang saat ini berusaha mengendalikan Joko Widodo dan PDI Perjuangan.

Mereka yang ingin mengendalikan Megawati dan Joko Widodo, sebetulnya di masa lalu, merupakan penentang utama Megawati dan ayahnya, Soekarno. Hal ini terendus dari pola penyelenggaraan pertemuan Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputri dengan sejumlah diplomat atau Duta Besar negara asing di rumah Jacob Soetoyo, seorang pengusaha di kawasan Permata Hijau, Senin malam 14 April 2014 lalu.

Pola pertemuannya saja, mengabaikan alur protokoler yang lazim diberlakukan negara kepada Megawati Soekarnoputri. Sesuai UU, Megawati dan para mantan Presiden, tetap disebut sebagai presiden. Hanya periode atau tahunnya saja yang berbeda. Namun Presiden Megawati Soekarnoputri tiba-tiba "dikerdilkan" oleh protokol “Pertemuan di Istana Jacob" itu.

Padahal, Megawati tidak hanya seorang "Presiden". Lebih dari itu, Megawati merupakan figur yang digadang-gadang sebagai penentu arah politik Indonesia ke depan. Keputusannya, sangat vital. Dan kalau keliru, bisa membuat Indonesia fatal. Lantas apa peran dan kehebatan tokoh di balik pertemuan itu? Pelobi, oportunis atau "zombie'?

Yang menimbulkan pertanyaan, mengapa pertemuan tidak digelar di kediaman Megawati Soekarnoputri? Atau mengapa tidak digelar di kantor DPP PDI Perjuangan?

Kalau Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia saja mau menyambangi Megawati di kediamannya, lantas mengapa para insiator "Pertemuan Istana Jacob", membuat agenda sendiri? Begitu vitalkah dana yang disediakan untuk kegiatan makan minum dan kongkow-kongkow hari Senin malam itu?

Apakah inisiator "Pertemuan Istana Jacob" sekadar mau memperlihatkan tajinya kepada publik? Atau sekadar melakukan perang urat syarat atau propaganda tentang eksistensinya yang belum mendapat pengakuan?

Dengan cara itu, secara politik "Pertemuan Istana Jacob" bisa memberi aksentuasi, Megawati dan capresnya Joko Widodo, sudah berada di bawah pengaruh atau kendali negara asing. Dan negara asing yang dimaksud, mereka yang diwakili oleh para Duta Besarnya.

Memang terdapat sejumlah Dubes, tetapi yang patut ditandai kehadiran utusan Amerika Serikat dan Vatikan. Negara asing itu, punya perpanjangan tangan di Indonesia, melalui jalur swasta dan dunia bisnis. Inilah masalah yang cukup mendasar dari "Pertemuan Istana Jacob". Soal isi pertemuan, tidak menjadi penting, tetapi "window dressing"nya yang substansil.

Entah disadari atau tidak oleh Megawati Soekarnoputri apalagi Joko Widodo, "Pertemuan Istana Jacob" mengirim pesan kepada publik, bahwa PDI Perjuangan sudah diterima pihak Barat cq Amerika Serikat.

Dalam konteks kesetaraan politik, hal ini merupakan sesuatu yang positif dan produktif. Tetapi berhubung "Pertemuan Istana Jacob" digelar di rumah seorang pebisnis yang dikenal mewakili kepentingan kelompok tertentu, pertemuan Megawati, Joko Widodo dan para Dubes tersebut menjadi sesuatu yang kontra produktif.

Mengapa?

Pertemuan digelar di rumah Jacob Soetoyo, pebisnis sukses yang dikenal dekat dengan lembaga pemikir CSIS dan para pendiri badan nirlaba tersebut. Tujuannya mungkin untuk memberi kesan, pencapresan Joko Widodo mendapat dukungan positif dari kalangan pebisnis (Jacob Soetoyo dkk) dan kaum intelektual (CSIS).

Tapi kefatalan dari pertemuan ini, terletak pada isu sektarian. Sebab sang pebisnis dan lembaga yang dekat dengannya, tak bisa menampik bahwa mereka bermasalah dalam soal SARA atau sektarian.

Jakob Soetoyo bukanlah pebisnis yang dikenal luas oleh masyarakat, tetapi lewat pertemuan di rumahnya, ia terpromosi. Ia seakan menjadi sosok pebisnis yang dianggap memiliki kekuatan politik. Ia melahirkan sebuah poros politik baru lewat bisnis pertemuan.

Sementara CSIS sebagai lembaga pemikir yang sempat dimusuhi oleh kelompok tertentu di kalangan umat Islam, punya stigma. Yaitu CSIS merupakan dikendalikan oleh kelompok non-muslim di Indonesia.

Sehingga Jakob Sutoyo dan CSIS ibarat "dua produk" yang disatukan. Celakanya, penyatuan itu seperti mengingatkan bahwa CSIS pernah diberi label "halal". Kini produk "halal" tersebut tiba-tiba muncul kembali di pasar bebas.

Ada kesan, Jakob Sutotyo "menempel" ke CSIS. Dan "penempelan" itu punya agenda tersembunyi. Sementara CSIS selain pernah dimusuhi oleh kelompok tertentu di masyarakat Islam, lembaga ini dikenal sangat dekat dengan lobi Amerika Serikat dan Vatikan (baca komunitas Katolik Internasional). Maka jadilah pebisnis dan lembaga pemikir sebuah kesatuan.

CSIS mendapat sorotan kali ini, sebab pada satu masa, di era kejayaan Presiden Soeharto, CSIS sempat dirumorkan sebagai lembaga strategis yang sangat berperan dalam dunia politik di Indonesia. Sejumlah produk UU yang dihasilkan DPR-RI, banyak yang diinisiasi oleh CSIS. Lembaga ini juga memiliki jaringan politik di Golkar, partai pemerintah yang berkuasa selama 32 tahun, seperti Orde Baru.

Lembaga ini juga berperan dalam penentuan siapa saja yang bisa menjadi Wakil Presiden, Menteri dan Dubes RI untuk negara sahabat. Karena peran dwi fungsi militer sangat kuat di era Orde Baru, lembaga ini dituding ikut mengatur siapa yang akan menjadi Panglima. Mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Namun akibat perannya yang terkesan berlebihan itu, menimbulkan ketidak nyamanan di kalangan publik. Terutama di kalangan politisi dan intelektual Islam. Salah satu bentuk ketidak-nyamanan itu mendorong ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesa) melahirkan lembaga pemikir bernama CIDES. Dalam kiprahnya, CIDES selalu berusaha melawan analisa dan proyeksi-proyeksi pemikiran para anggota CSIS.

Sehingga pada satu masa CSIS dan CIDES berhadap-hadapan atau bersaing secara politik. Ketika BJ Habibie yang menjabat Ketua ICMI menjadi Presiden di 1998, di era itulah terjadi degradasi peran oleh CSIS. Yang lebih berperan CIDES.

Artinya secara tidak langsung, persaingan antara CIDES dan CSIS merupakan wujud dari perseteruan dari kelompok Islam dan non-Islam. Begitu juga maknanya, CSIS sudah pernah menciptakan perbenturan antara kelompok Islam dan non-Islam.

Bahkan kelompok nasionalis yang tidak punya saham dalam perseteruan ini dan diwakili oleh Megawati Soekarnoputri ikut dimusuhi CSIS. Sebab paham Soekarno yang menjadi ideologi PDI, sangat ditentang oleh para pemikir di CSIS.

Sejarah mencatat penentangan itu dilakukan CSIS dengan cara lebih membela Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI dari pada Megawati Soekarnoputri. Oleh sebab itu, tidak heran, jika kalangan nasionalis yang mencatat rekam jejak CSIS, cukup terkejut dan bertanya-tanya, apa yang membuat Megawati tertarik menghadiri "Pertemuan Istana Jacob”.

Apakah Megawati dijebak, terjebak atau sengaja menjebakkan diri?

Dalam konteks politik bebas aktif dan demokrasi, "Pertemuan Istana Jacob" merupakan hal yang sah dan positif. Tapi dalam soal kejujuran dan ketulusan berpolitik, pertemuan itu merupakan sebuah kemunafikan bentuk lain persengkongkolan.

Jadi tetap saja sebuah kegiatan kontra produktif. Sesuatu yang bisa menimbulkan permasalahan baru bagi bangsa. Sebuah langkah yang bisa mengeroposi kewibawaan Megawati Soekarnoputri sebagai seorang oposan yang pernah menjadi korban kebijakan Orde Baru, lobi Barat dan pembawa inspirasi politik anti Soekarno.

Dan jika Megawati Soekarnoputri ingin dicatat dengan tinta emas sebagai negarawati yang mempersatukan bangsa Indonesia, kelanjutan pertemuan seperti itu, hendaknya dihindari.

Megawati harus menapak ke depan. Soekarno, Soeharto dan CSIS merupakan masa lalu.

Dan toh tanpa pertemuan di "Istana Jacob", Megawati sudah menjadi sosok yang menentukan di republik ini. Sementara tokoh-tokoh yang menginisiasi pertemuan itu sesungguhnya hanya ingin menumpang pada ketokohan Megawati dan Joko Widodo. (*inilah)


Pertemuan yang seharusnya dilakukan secara diam-diam alias rahasia itu rupanya tercium oleh media massa.

PDI Perjuangan (PDIP) dinilai blunder terkait pertemuan dengan Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) Robert O Blacke serta beberapa dubes asing di kediaman pengusaha Jacob Soetoyo.

Pertemuan yang seharusnya dilakukan secara diam-diam alias rahasia itu rupanya tercium oleh media massa. Otomatis, pertemuan tersebut menimbulkan spekulasi jelang Pilpres 2014.

Sebab, pertemuan dengan beberapa dubes asing itu dihadiri langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo (Jokowi) selaku capres partai berlambang banteng moncong putih itu.

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak menilai, pertemuan itu kesalahan besar bagi PDIP. Sebab, hal itu semakin mempertegas dugaan publik terhadap kepentingan asing atas pencapresan Jokowi.

"Itu (pertemuan dubes asing) langkah blunder PDIP. Ini menpertegas sisi gelap pencapresan Jokowi," kata Zaki, di Jakarta, Selasa (15/4/2014) malam, dimuat inilahcom.

Terungkapnya pertemuan itu, kata Zaki, membuat masyarakat semakin melek dengan ambisi Jokowi menjadi penguasa di Indonesia. Semakin memperjelas ada kepentingan asing di belakang mantan Wali Kota Solo itu.

"Pertemuan tersebut difasilitasi konglomerat besar. Makin jelas pengaruh cukong dalam gerakan pemenangan Jokowi," tegas Zaki.

"Makin jelas bahwa Jokowi hanya sekadar boneka Megawati. Ia diminta hadir dalam pertemuan tersebut oleh Mega, tapi tak kuasa menolak," kata Zaki menduga.

Untuk itu, Capres PDIP itu diminta untuk memperjelas maksud dan tujuan dari pertemuan tersebut. Hal itu guna menghindari dugaan publik terhadap kepentingan asing di Pilpres 2014 nanti.

"Sebagai calon presiden Jokowi berkewajiban menjelaskan kepada publik apa agenda pertemuan tersebut. Semakin ditutupi, semakin menggerus kepercayaan publik," demikian Zaki.

Diketahui, seusai pertemuan itu, Jokowi beserta Megawati dan Puan Maharani tampak terkejut karena telah ditunggu media di halaman rumah Jacob, di Jalan Sircon, Jakarta Selatan.

Jokowi bersama Megawati dan Puan menaiki mobil Mercy B 609 HPM warna putih. Jokowi yang biasa akrab menyapa wartawan, justru malam itu Jokowi tampak bersembunyi dan menghindari awak media. Sementara, Megawati yang duduk di bangku belakang hanya melemparkan senyuman pada awak media.

Adapun tujuh dubes yang ikut hadir terlihat dari beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah yang cukup besar itu; CD 12 merupakan Kedubes AS, CD 15 Vatikan, CD 18 Myanmar, CD 19 RRC, CD 42 Meksiko, CD 48 Turki, dan CD 108 Peru. (*inilah)


Oleh Darmawan Sepriyossa

Ada dua blunder yang merugikan PDI Perjuangan dalam pertemuan Permata Hijau yang digelar Senin (14/4/2014) malam lalu. Tetapi yang paling fatal adalah terlibatnya Vatikan dalam pertemuan itu.

Kesalahan pertama adalah terlibatnya Amerika Serikat, melalui duta besarnya Robert O. Blake dalam pertemuan itu. Dalam pandangan saya, kalau pun PDI Perjuangan memandang faktor AS itu begitu signifikan, sikap ‘sumerah’ tersebut tidaklah harus dibuat setelanjang itu ke publik. 

Menjadikannya hanya sebagai ‘rahasia dapur’ tentu saja lebih elok untuk nama besar PDIP yang biasa menampilkan retorika-retorika kemandirian dan anti-asing khas Bung Karno itu di mata public.

Bagi saya, sebagaimana ‘faktor militer’, ‘faktor AS’ hanyalah mitos yang entah mengapa tanpa reserve kita pertahankan. Seolah, tanpa dukungan AS, tak mungkin seseorang bisa menjadi presiden Indonesia.

Mungkin ada benarnya, mengingat fakta sejarah seputar penurunan Bung Karno, naiknya Soeharto dan seterusnya yang selalu melibatkan pembicaraan tentang ‘faktor AS’ itu. Bahkan tak kurang yang terbuka, seperti terungkap dalam biografi mantan Menteri Luar Negeri AS, Condoleeza Rice. 

Dalam ‘No Higher Honor: A Memoir of My Years in Washington’ itu Rice tanpa sungkan menilai para presiden Indonesia yang sempat dikenalnya. Misalnya, sebagai tanda persetujuannya atas kemenangan SBY dalam Pemilu 2014--Rice tak satu kata pun menyebut mitra SBY, Jusuf Kalla, Rice mengatakan SBY telah membawa era baru bagi Indonesia.

Tetapi sukar untuk menolak bahwa dalam politik Indonesia, ‘faktor AS’ pun tak lebih dari sekadar mitos. Sama halnya dengan ‘militer’ yang dianggap lebih kapabel, yang dalam banyak hal hanya merujuk Soeharto. Yang lain, maaf kata, justru membuktikan sebaliknya.

Sementara sebaliknya, yang faktual adalah bahwa kepemimpinan mana pun yang mengedepankan mitos, bukanlah kepemimpinan yang cocok untuk dinamis dan tak terprediksinya masa depan. Ia telah menjadi masa lalu yang seharusnya ditinggalkan. Sudah tidak masanya lagi melibatkan ‘wahyu keprabon’ atau mitos minum air kelapa pemberi nasib baik ala Sutawijaya dalam Babad Tanah Jawi untuk urusan kepemimpinan saat ini.

Tetapi tentu saja, yang kedua, yakni melibatkan Vatikan ke dalam pertemuan itu jauh lebih fatal. Orang masih bisa memaklumi terlibatnya AS dengan ke dalam pertemuan, mengingat negara adidaya itu faktor penting dalam percaturan dunia saat ini. Apalagi kalau kita membuka data statistik tentang ketergantungan Indonesia, yang tak hanya melulu soal ekonomi, melainkan juga kebudayaan, sosial, hukum dan demokrasi.

Tetapi Vatikan? Nyaris bisa dikatakan, tak ada kepentingan strategis apa pun yang bisa dijadikan alasan pembenar hadirnya dubes Vatikan pada pertemuan itu. Sebaliknya, hadirnya Dubes Vatikan justru memberi ‘noda’ pada pertemuan.

Yang paling jelas, ia menjadi alasan pembenar (justifikasi) bagi banyak kalangan untuk mengorek rumors lama di sekitar pencalonan Jokowi. Isu yang muncul sejak ia mengincar kursi gubernur DKI Jakarta: isu sektarian keagamaan. Isu yang tak juga lekang di masa Pileg kemarin.

Bukankah kita pun tahu, dengan gampang kita bisa menemukan pamflet, selebaran, baik itu dalam bentuk cetakan maupun yang berseliweran di dunia maya lewat internet dan telepon seluler kita? Bukanlah kita tahu betapa repot Jokowi dan PDI Perjuangan menepis isu primordial yang mengembalikan kita ke tahun-tahun awal kemerdekaan, setidaknya era 1950-60-an itu?

Lalu untuk apa isu tidak cerdas yang membawa bangsa kepada sentimen sempit primordial itu justru dihadirkan kembali secara telanjang dengan terlibatnya Vatikan dalam pertemuan?

Unsur PDI Perjuangankah yang alpa memikirkan akibatnya, dan sengaja mengundang Vatikan ke dalam pertemuan? Jujur saja, saya ragu. Jokowi dan PDI Perjuangan tahu betapa kerasnya isu primordial itu menghantam mereka. Mereka juga tahu betapa sulitnya berkelit.

Tetapi begitu saja menunjuk inisiator pertemuan, Jacob Soetoyo, sebagai pengundang pihak Vatikan pun kurang memiliki alasan kuat. Bagaimana mungkin, Jacob, seorang yang sempat menjadi anggota Dewan Pengawas CSIS dan anggota lembaga terkemuka dunia, Trilateral Commision, semudah itu silap memperhitungkan dampak negatif keterlibatan Vatikan ?

Atau justru semua telah tertata dalam rencana?

*source: inilah

TUNTUTAN bergabung kembali dengan Rusia tidak hanya datang dari wilayah timur Ukraina. Tuntutan serupa ternyata juga datang dari penduduk di Alaska. Alaska merupakan bagian dari teritorial Amerika Serikat.

Di laman White House (http://petitions.whitehouse.gov), muncul petisi yang meminta dukungan agar Alaska kembali bergabung dengan Rusia. Petisi yang diunggah pada 21 Maret 2014 membutuhkan 100 ribu tanda tangan untuk dapat diserahkan ke pemerintah Amerika Serikat untuk mendapat tanggapan.

Hingga, Kamis, 10 April 2014, sudah 40.952 orang yang menandatangani petisi yang diberi tajuk "Alaska Back to Russia". Itu artinya dibutuhkan 59.048 tanda tangan lagi hingga 20 April 2014.

Petisi ini mendorong dilakukannya pemungutan suara (referendum) terhadap tuntutan mereka mengembalikan Alaska kepada Rusia. Penggagas petisi menjelaskan sejarah penemuan Alaska oleh sekelompok warga Siberia, Rusia, sekitar 16-10 ribu tahun lalu. Mereka melewati Selat Isthmus (sekarang Selat Bering).


Berdasarkan penelusuran dokumen sejarah, ekspedisi pertama ke Alaska adalah warga Rusia bernama Mikhail Gvozdez tahun 1732. Alaska merupakan koloni Rusia hingga 1867 di masa kekuasaan Raja Alexander II. Kemudian Alaska dijual ke Amerika Serikat setara antara US$ 7,2-120 juta saat ini.

Awal Maret lalu, kelompok pendukung Rusia di Donetsk, kota yang terletak di timur Ukraina, menguasai gedung pemerintahan dan memproklamasikan pengambilalihan pemerintahan. Ratusan orang juga mengibarkan bendera Rusia dan meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah Ukraina di sekitar halaman gedung.

"Para separatis itu mengumumkan pembentukan pemerintah baru yang dipimpin oleh Pavel Hubarev," kata Oleksiy Matsuka, editor surat kabar Novosti Donbassa.

Novosti Donbassa melaporkan sentimen terhadap Ukraina menyebar di negara yang penduduknya mayoritas warga Rusia. Insiden di Donetsk juga terjadi di Odessa di Sungai Hitam dan Luhansk, yang berbatasan dengan Rusia.

Maret lalu, Crimea meraih kemerdekaannya melalui referendum yang didukung oleh Rusia. Crimea kemudian bergabung dengan Federasi Rusia. *RIA NOVOSTI | WWW.WHITEHOUSE.GOV


Seiring berlarut-larutnya pencarian pesawat MH370 yang tidak kunjung ditemukan, spekulasi masih terus berputar liar di media massa. Spekulasi terbaru, pesawat Malaysia Airlines itu disandera di Afganistan.

Laporan ini disampaikan oleh harian Rusia Moskovsky Komsomolets, seperti diberitakan International Business Times, akhir pekan lalu. Mengaku mendapat informasi dari intelijen Rusia, koran ini mengatakan bahwa pesawat itu dibajak.

"Pilotnya tidak bersalah. Pesawat dibajak oleh teroris tidak dikenal. Kami tahu bahwa nama teroris yang memaksa pilot adalah "Hitch". Pesawat ada di Afganistan, tidak jauh dari Kandahar dekat perbatasan Pakistan," kata sumber.

Sumber juga mengatakan bahwa pesawat mendarat dengan keras di jalanan dekat pegunungan dengan keadaan sayap rusak. Dikatakan bahwa seluruh penumpang selamat dan disandera di tempat terpisah dalam keadaan kekurangan makanan.


Sebanyak 20 penumpang yang merupakan ahli dari Asia ditahan di tempat terpisah di Pakistan. Mereka akan dijadikan "barang" pertukaran dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Jumlah kali ini kemungkinan berhubungan dengan teori spekulasi sebelumnya. Dikatakan bahwa anggota illuminati Jacob Rothschild menyandera MH370 untuk mendapatkan kepemilihan tunggal atas hak paten sebuah semikonduktor.

Malaysia Chronicle memberitakan, Rothschild mengincar kepemilikan atas drone robot pembunuh yang bisa digunakan para operasi militer milik perusahaan Freescale Semiconductor Ltd.

Menurut Freescale, 20 orang yang terdiri dari 12 warga Malaysia dan 8 Tiongkok di antara penumpang adalah pegawai mereka. Belum dapat dipastikan kebenaran berita-berita ini.


Sebelumnya juga berita konspirasi semacam ini berkembang di media. Phillip Woods, salah satu penumpang yang juga karyawan IBM dilaporkan berhasil mengirimkan pesan bahwa mereka disandera di pangkalan militer Amerika Serikat di Diego Garcia.

Woods, tulis beberapa media, berhasil memasukkan iPhone 5 miliknya ke dalam anus ketika personel militer membajak pesawat itu. Cerita ini didukung oleh foto gelap gulita yang diduga diambil Woods di tempat penyekapannya.

Kisah Woods ini dibantah oleh Amerika Serikat yang mengatakan bahwa tidak ada indikasi bahwa MH370 terbang di antara Maladewa atau Diego Garcia. Foto dalam cerita itu juga diketahui diambil dari laman berbagi foto 4chan.org. (*MoskovskyKomsomolets)

aceh atjeh cyber acheh | 300x250

aceh atjeh cyber acheh

acw atjeh cyber | home tabview

TERKINI
→ Berita » Index » Readmore

aceh atjeh cyber acheh SlideNews

aceh atjeh cyber acheh | HIGHLIGHT

HIGHLIGHT
HEADLINES

aceh atjeh cyber acheh | MUST READ!

MUST READ
UTAMA

aceh atjeh cyber acheh | EDITORIAL

EDITORIAL

aceh atjeh cyber acheh | ANALISA/OPINI

ANALISA/OPINI

toyota aceh

aceh atjeh cyber acheh | kosong

aceh atjeh cyber acheh | TERPOPULER

TERPOPULER

aceh atjeh cyber acheh | TAHUKAH ANDA

TAHUKAH ANDA?

aceh atjeh cyber acheh VIDEO

VIDEO

aceh atjeh cyber acheh | 728x90

WORLD NEWS

INTERNASIONAL

INTERNASIONAL

SUMATRA

SUMATRA

DUNIA ARAB

DUNIA ARAB

FINANCE

FINANCE

REGIONAL

REGIONAL

PERS RILIS/CITIZEN

CITIZEN

PALESTINA

PALESTINA

ACEH

ACEH
INI BARU BERITA

UNIK!

UNIK!

BIN SINTING

BIN SINTING

LOL!

LOL

WOW!!

WOW!!
TECHNOLOGY

TECHNEWS

TECHNEWS

SAINS

SAINS

ANDROID

ANDROID

CANGGIH

CANGGIH

MULTIMEDIA

MULTIMEDIA

GADGET

GADGET

PHOTO TECH

TECHPHOTOS

TIPS

TIPS
DUNIA ISLAM

AKHIR ZAMAN

AKHIR ZAMAN

KONSPIRASI

KONSPIRASI

KISAH INSPIRASI

KISAH INSPIRASI

BUMI ISLAM

BUMI ISLAM
MOZAIK ISLAM

ISLAMPEDIA

ISLAMPEDIA

MUALLAF

MUALLAF

SYARIAH

SYARIAH

OASE IMAN

OASE IMAN
ACEH CHRONICLES

ACEHPEDIA

ACEHPEDIA

KEMERDEKAAN

KEMERDEKAAN

KESULTANAN

KESULTANAN

CULTURE

CULTURE
RUBRIK KHAS

RAGAM

RAGAM

GALERI FOTO

GALERI FOTO

WAWASAN

WAWASAN

DUNIA MUSLIM

DUNIA MUSLIM
ANONYMOUS

TODAY HISTORY

TODAY HISTORY

NEWS PICTURES

NEWS PICTURES

SOSOK

SOSOK

FOOTBALL

FOOTBALL